Asal Mula Batu Rantai

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, ada seorang raja bernama Paduka Seri Maharaja. Raja yang memerintah Negeri Tumasik ini dikenal mempunyai perangai buruk. Dia memiliki sifat tamak, iri hati, kejam, dan sering berperilaku sewenang-wenang pada rakyatnya. Suatu ketika rakyat Negeri Tumasik mendapat serangan mendadak dari ratusan ribu ikan todak. Mereka tidak hanya menyerang warga di sepanjang pantai, tetapi juga yang tinggal agak jauh dari laut (pedalaman).

Agar tidak menimbulkan banyak korban jiwa, terutama dari kalangan perempuan dan anak-anak, Paduka Seri Maharaja memerintahkan penduduk laki-laki membuat pagar betis. Namun, strategi itu tidak efektif. Ikan-ikan todak mampu menembus barisan pagar betis sehingga menimbulkan banyak lebih korban. Rakyat tidak sanggup menahan keganasan mereka.

Di tengah kebingungan menghadapi kawanan ikan tersebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil datang menghadap Paduka Seri Maharaja. Sang anak kecil berujar bahwa usaha Baginda Maharaja mengerahkan penduduk membuat pagar betis hanyalah sia-sia belaka. Moncong ikan todak yang bagaikan pedang akan dengan mudah menembus barisan pagar manusia.

Paduka Seri Maharaja tentu saja tidak terima pendapat anak kecil yang dianggap sok tahu dan masih ingusan. Bagaimana mungkin anak ingusan dapat memberikan solusi tepat bagi sebuah masalah besar yang melanda kerajaan. Oleh karena itu, dia langsung menghardik sang anak kecil yang tiba-tiba "nongol" dan tidak jelas asal usulnya.

"Hamba Kabil dari Bintan Penaungan, Baginda Raja," jawabnya tegas. "Hamba telah berpengalaman menghadapi ikan todak. Seluruh perilaku ikan tersebut sudah hamba hafal. Jadi, hamba sedikit tahu bagaimana cara mengatasinya," lanjutnya.

Walau jengkel atas kelancangan sang bocah, tetapi Paduka Seri Maharaja tidak mempunyai opsi lain. Dia terpaksa menuruti anjuran Kabil. Oleh karena itu, dia lalu memerintahkan segenap rakyatnya menebang pohon-pohon pisang di seluruh negeri untuk dijejerkan rapat menyerupai pagar. Tujuannya, agar moncong para ikan todak tersangkut atau tertancap pada batang pisang.

Keesokan harinya, ketika kawanan ikan todak menyerang lagi, satu per satu mulut mereka menancap pada batang pisang. Rakyat pun beramai-ramai menangkapnya. Sebagian mereka ada yang langsung mencincang tubuh ikan-ikan sebagai balas dendam atas terlukanya sanak kerabat mereka. Sedangkan sebagian lagi ada yang memotong-motongnya untuk selanjutnya dimasak dengan berbagai macam cara.

Euforia dapat mengalahkan kawanan ikan todak dirasakan oleh hampir seluruh penduduk kerajaan, terutama rakyat kecil. Mereka tidak hanya terbebas dari serangan ikan todak, melainkan juga tidak perlu pergi melaut. Daging kawanan ikan todak yang tertancap di batang-batang pisang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka selama beberapa bulan.

Namun sebaliknya, para pembesar kerajaan tidak begitu senang sebab kemenangan tersebut berasal dari kalangan orang kebanyakan yang bernama Kabil. Mereka khawatir, dukungan rakyat pada Kabil akan sangat besar sehingga sewaktu-waktu dapat menggulingkan kekuasaan Paduka Seri Maharaja. Apabila hal itu terjadi, kedudukan mereka selaku pejabat dan pembesar istana juga terancam.

Melalui salah seorang perwakilannya, para pembesar mengungkapkan kekhawatiran mereka pada Paduka Seri Maharaja. Selain itu, mereka juga berusaha mempengaruhi agar Paduka Seri Maharaja panas hati dan menyingkirkan Kabil. Adapun caranya, perlu dibuat sedemikian rupa agar dia tidak dapat kembali lagi. Sebab, apabila kembali dikhawatirkan akan menggalang kekuatan untuk melengserkan Paduka Seri Maharaja.

Untuk mengakomodir kekhawatiran para pembesar, Paduka Seri Maharaja memerintahkan pada para pengawal menangkap Kabil. Setelah tertangkap, perintah selanjutnya adalah memasukkannya ke dalam kerangkeng besi dengan tubuh terbalut rantai besi. Dan apbila telah seluruh tubuh telah terikat rantai, maka perintah berikutnya adalah menenggelamkannya di perairan Pulau Segantang Lada. Dengan cara demikian, Paduka Seri Maharaja yakin Kabil tidak akan dapat menggoyangkan kekuasaannya di Kerajaan Tumasik.

Tidak berapa lama setelah perintah diberikan, para prajurit datang menghadap sambil membawa Kabil. Selanjutnya, Paduka Seri Maharaja bersama para prajurit yang membawa kabil dalam kerangkeng ke pelabuhan untuk berlayar menuju perairan Pulau Segantang Lada yang relatif tenang. Ketika sauh diturunkan di tengah laut dan Kabil hendak ditenggelamkan, dia sempat melakukan protes. Dia mempertanyakan mengapa raja menghukumnya, padahal telah memberi saran bijak yang dapat membuat kawanan ikan todak tidak menyerang lagi.

Pertanyaan keberatan itu tidak dipedulikan Paduka Seri Maharaja. Dia tetap memerintahkan beberapa prajurit untuk membuang kerangkeng berisi Kabil ke dalam laut. Kabil pun akhirnya tenggelam dan mati mengenaskan. Tidak lama kemudian, entah mengapa, air laut di lokasi tewasnya Kabil mendadak menjadi sebuah pusaran berbahaya. Penduduk setempat menamainya sebagai Batu Rantai. Para nakhoda yang melintasi perairan itu harus ekstra hati-hati apabila melintasinya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Tanjung Lesung

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, ada seorang pengelana dari daerah Laut Selatan bernama Raden Budog. Suatu hari dia bermimpi bertemu seorang gadis yang cantik jelita. Mimpi itu selalu membayang di pikiran sehingga pengelanaannya pun diarahkan untuk mencari si gadis. Keyakinannya menyatakan bahwa si gadis pasti mewujud di suatu tempat entah di mana.

Berbekal makanan secukupnya serta sebilah golok dan batu asah Raden Budog mulai berkelana bersama kuda dan anjingnya mencari keberadaan sang gadis impian. Namun setelah beberapa hari menempuh perjalanan tanpa henti, dia belum juga memperoleh petunjuk keberadaan sang gadis. Semakin penasaran, dia tetap melanjukan perjalanan walaupun kedua hewan kesayangannya telah kelelahan.

Oleh karena perjalanan harus menyusuri tanah berbatu serta serta menanjak, ketika berada di Gunung Walang kuda yang ditunggangi Raden Budog terperosok. Mereka jatuh berguling hingga ke lereng gunung. Raden Budog menderita luka lecet di sekujur tubuh. Demikian pula dengan kuda tunggangannya. Bahkan, pelana yang berada di atas punggungnya sampai rusak dan tidak dapat digunakan lagi.

Sadar akan kondisi kuda tunggangannya yang kelelahan Raden Budog memutuskan beristirahat sejenak. Beberapa jam kemudian dia melanjutkan lagi perjalanan. Kali ini dia tidak lagi duduk di pelana, melainkan berjalan bersama dengan kuda dan anjingnya ke daerah Tali Alas hingga tiba di Pantai Cawar. Sesampai di tepi pantai dia langsung menceburkan diri ke air laut untuk menyegarkan diri, sementara kuda dan anjingnya menunggu di bawah sebuah pohon kelapa yang agak teduh.

Puas berendam di air, Raden Budog berniat melanjutkan perjalanan. Namun, entah mengapa kedua hewan itu tidak beranjak ketika diperintah. Bahkan, mereka tetap tidak bergeming walau telah ditarik-tarik dan didorong agar mau beranjang pergi. Raden Budog pun menyerah dan memutuskan untuk meneruskan perjalanan seorang diri menuju arah Legon Waru. Padahal, dia sebenarnya sangat sedih karena kedua hewan itu telah menemani di sepanjang penjalanan. Tetapi karena hasrat ingin berjumpa dengan gadis impian lebih kuat, dia terpaksa merelakan anjing dan kuda kesayangannya.

Setiba di daerah Legon Waru Raden Budog lantas beristirahat di suatu tempat. Badannya, terutama bagian pundak, terasa ngilu karena membawa batu asah yang tadinya dibawa oleh sang kuda. Saat hendak melanjutkan perjalanan kembali, ditinggalkanlah batu asah yang membuat pundaknya terasa ngilu dan nyeri. Konon, batu asah tadi menjelma menjadi sebuah karang. Oleh masyarakat setempat, karang jelmaan batu asah milik Raden Budog itu dinamakan sebagai Karang Pangasahan.

Di tengah perjalanan menyusuri pantai, tiba-tiba turun hujan lebat sehingga dia terpaksa berhenti dan mencari tempat berteduh. Bersamaan dengan basahnya pasir akibat guyuran air hujan, secara perlahan-lahan muncullah ratusan ekor anak penyu yang beramai-ramai berjalan menuju pantai. Oleh masyarakat setempat, lokasi kemunculan para penyu itu kemudian dinamakan sebagai Cipenyu.

Tetapi setelah ditunggu sekian lama hujan tidak juga reda, Raden Budog nekat melanjutkan perjalanan berbekal selembar daun sebagai penutup kepala. Dalam kondisi cuaca buruk tersebut dia melangkahkan kaki menyusuri pantai hingga tiba di mulut sebuah goa karang. Oleh karena pakaian yang dikenakan telah basah kuyup, sementara hujan tidak juga reda dan langit malah bertambah gelap dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar, maka dia memutuskan berteduh di dalam goa. Agar tidak kecipratan air hujan, ditutupnya mulut goa itu dengan daun yang digunakan sebagai penutup kepala tadi. Setelah hujan reda, dia bergegas keluar untuk melanjutkan pencariannya. Entah kenapa, daun yang digunakan sebagai penutup goa tadi tetap menempel dan menjadi keras. Oleh masyarakat setempat, goa itu kemudian dinamakan sebagai Karang Meumpeuk.

Langkah kaki Raden Budog membawanya ke sebuah muara sungai yang sedang meluap. Untuk mencapai ke seberang tentu saja tidak mudah karena arus air sangat deras. Dia terpaksa menunggu hingga air sungai surut baru dapat menyeberang. Selanjutnya, sungai meluap itu diberi nama juga oleh masyarakat setempat sebagai "Kali Caah" yang berarti "sungai yang sedang banjir".

Sesampai di seberang, dia melihat ada sebuah desa yang relatif padat namun asri. Dari arah lumbung desa itu sayup-sayup terdengar alunan merdu tumbukan lesung. Setelah didekati, ternyata ada sekelompok gadis sedang ngagondang, sebuah permainan sambil menumbuk padi dengan cara tertentu agar terdengar merdu dan indah. Permainan ini dianggap sakral dan tidak diperkenankan dimainkan pada hari Jumat. Bagi orang yang melanggar akan berakibat buruk pada dirinya sendiri.

Salah seorang diantara gadis yang sedang ngagondang itu berparas cantik, sintal, dan menggairahkan. Dia adalah Sri Po Haci, anak seorang janda bernama Nyi Siti. Dialah gadis yang hadir dalam mimpi Raden Budog yang membuatnya bertekad melakukan pencarian ke seluruh pelosok negeri. Melihat sang gadis impian ada di depan mata, tentu saja jantung Raden Budog berdebar-debar.

Usai ngagondang, sang gadis kembali ke rumah. Dia diikuti oleh Raden Budog. Tiba di rumah Sri Po Haci, Raden Budog meminta izin bermalam. Tetapi karena di rumah hanya ada seorang janda dan anak gadisnya, tentu permintaan tersebut segera di tolak. Tidak hilang akal, Raden Budog lalu menuju ke dipan bambu yang terletak tidak jauh dari rumah Nyi Siti. Dia beristirahat di dipan itu.

Singkat cerita, Raden Budog pun berkenalan dengan Nyi Po Haci. Mereka menjadi dekat, berpacaran, dan akhirnya menikah, walau awalnya ditentang oleh Nyi Siti karena tidak mengetahui asal usul Raden Budog. Setelah menikah Raden Budog tidak megekang kebiasaan Nyi Po Haci. Salah satu di antaranya adalah kebiasaan ngagondang bersama para tetangga. Bahkan, dia justru ikut-ikutan ngagodang. Saking senangnya ngagondang, dia lupa kalau ada larangan bermain setiap hari Jumat. Walhasil, tanpa disadari, ketika sedang membunyikan lesung tiba-tiba tubuhnya beralih ujud menjadi seekor lutung.

Warga desa yang tadinya telah memperingatkan akan larangan tersebut sontak menjadi tertawa geli melihat Raden Budog menjadi lutung yang melompat-lompat sambil bermain lesung. Sadar kalau dirinya sedang ditertawakan, Raden Budog segera menghentikan permainannya. Saat akan meletakkan alu di atas lesung, dia melihat tangannya telah ditumbuhi bulu lebat dan panjang. Selain itu, bagian tubuh belakangnya juga telah keluar sebuah ekor lumayan panjang.

Malu kalau sekarang telah berubah menjadi seekor lutung, tanpa berkata lagi dia langsung melompat menuju hutan di pinggiran desa. Dia menyesal telah melanggar aturan adat sehingga menjadi lutung. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Raden Budog telah menjadi lutung selamanya yang harus hidup di dalam hutan. Dan semenjak kejadian itu, nama desa yang berada di dekat tanjung tersebut diubah menjadi Tanjung Lesung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Dayang Kumunah

(Cerita Rakyat Daerah Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang laki-laki tua sebatang kara bernama Awang Gading. Untuk menghidupi dirinya Awang Gading bekerja menangkap ikan di sungai. Apabila hasil tangkapan berlimpah, sebagian dia bungkus dan bawa ke pasar untuk ditukar dengan beras atau barang kebutuhan pokok lain. Kegiatan ini (menangkap ikan) dilakukannya setiap hari dengan hati gembira tanpa pernah mengeluh.

Suatu hari, ketika dia sedang mencari ikan Awang Gading mendengar tangis seorang bayi. Oleh karena hari itu dia sedang sial dengan tidak mendapatkan seekor ikan pun, maka tangisan sang bayi tadi menjadi perhatiannya. Setelah mengemasi peralatan memancingnya dia lalu mencari sumber suara tangisan itu. Tak berapa lama berselang, dia mendapati seorang bayi masih merah tergeletak di bawah sebuah pohon rindang di tepi sungai.

Awang Gading segera mendatangi sang bayi untuk menenangkannya. Pikirnya, mungkin ibunya sedang mencuci pakaian atau mandi di sungai. Dia bermaksud menjaga sang bayi dari hal-hal yang tidak diinginkan hingga sang ibu kembali. Namun, setelah ditunggu hingga menjelang senja ternyata ibu sang bayi tidak juga muncul. Entah mengapa, dia memang sengaja ditinggalkan di tempat itu. Awang Gading memutuskan untuk membawa sang bayi pulang ke rumah. Dia menamainya Dayang Kumunah.

Kehadiran Dayang Kumunah di rumah Awang Gading ternyata menarik perhatian para tetangga. Beberapa di antara mereka, terutama kepala kampung, menganggap bahwa Dayang Kumunah sebagai bayi titipan raja penguasa sungai. Anggapan inilah yang membuat para warga menyarankan agar Awang Gading merawat dan memelihara Dayang Kumunah dengan baik.

Belasan tahun kemudian, Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang bertingkah laku sopan dan berbudi luhur. Ketika dewasa, dia menjelma menjadi seorang yang cantik jelita dengan tetap mempertahankan sifat yang sama. Sayangnya, dia memiliki satu kekurangan yaitu tidak pernah tertawa. Sedari bayi hingga menjadi gadis cantik, tak ada seorang pun yang pernah melihatnya tertawa, termasuk Awang Gading sendiri.

Namun, kekurangan itu tertutup oleh kecantikan, kemolekan serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah. Oleh sebab itu, selalu saja ada pria yang penasaran dan ingin bertemu dengannya. Salah satunya adalah Awangku Usop, seorang pemuda kaya raya dari kampung sebelah. Ketika mereka bertemu muka, Awangku Usop langsung jatuh cinta dan mengajak Dayang Kumunah menikah.

Mendengar lamaran Awangku Usop, Dayang Kumunah berusaha memberi penjelasan bahwa dia bukanlah manusia biasa melainkan "anak penghuni sungai". Selain itu, dia juga tidak boleh tertawa. Jadi, Awangku Usop tidak boleh memintanya untuk tertawa. Apabila Awangku Usop bersedia menerima "perbedaan" tersebut, maka Dayang Kumunah siap menjadi isterinya.

Terpesona oleh kecantikan, kemolekan, serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah, tanpa berpikir panjang Awangku Usop langsung menyanggupinya. Mereka pun akhirnya menikah dalam sebuah pesta yang sangat meriah. Hampir seluruh warga masyarakat yang tinggal di sekitar dusun tempat tinggal Dayang Kumunah maupun Awangku Usop menghadiri prosesi pernikahan.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia dengan dikaruniai lima orang anak. Dayang Kumunah melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan walaupun hanya berada pada sektor domestik alias mencuci, masak, membersihkan rumah, meladeni suami, merawat anak-anak, dan lain sebagainya. Dia tampak bahagia walau tidak pernah sekalipun tertawa dan hanya tersenyum saja.

Suatu ketika, karena telah lanjut usia Awang Gading meninggal dunia. Hal ini membuat Dayang Kumunah menjadi sedih. Raut mukanya terlihat murung dan seakan tidak memiliki gairah hidup. Sang suami yang melihat hal itu berusaha menghiburnya dengan segala macam cara sehingga perlahan-lahan Dayang Kumunah kembali gembira dan dapat merelakan kepergian Awang Gading yang telah mengasuhnya sejak bayi.

Sukses dalam mengembalikan keceriaan Dayang Kumunah, membuat Awangku Usop lupa akan janjinya. Dia malah berusaha membuat isterinya tidak hanya tersenyum, tetapi juga tertawa. Tepat saat anak bungsu mereka mulai dapat berjalan, Awangku Usop mengerahkan anak-anaknya untuk menggoda si bungsu sehingga mereka pun (termasuk si bungsu) tertawa terkekeh-kekeh.

Agar tidak kehilangan moment, Awangku Usop segera berteriak memanggil sang isteri yang sedang menanak nasi di dapur. Ketika Dayang Kumunah datang, mereka mengajaknya tertawa bersama menyaksikan tingkah polah si bungsu yang memang sangat lucu. Walhasil, Dayang Kumunah lepas kendali dan akhirnya tertawa terbahak menyaksikan si bungsu berusaha berdiri di atas kedua kakinya yang gemuk dan menggemaskan. Sebaliknya, Awangku Usop dan keempat anaknya menjadi tertegun karena melihat insang di dalam rongga mulut Dayang Kumunah.

Tidak berapa lama setelahnya, sadar akan kesalahan, Dayang Kumunah langsung terdiam. Tanpa berkata sepatah pun, dia segera berlari menuju sungai meninggalkan suami dan anak-anaknya. Sesampainya di sungai, dia menceburkan diri dan seketika itu juga tubuhnya beralih ujud menjadi seekor ikan. Awangku Usop yang mengejar di belakangnya tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya diam terpaku ketika sang ikan jelmaan Dayang Kumunah berputar di sekelilingnya dan kemudian pergi menjauh. Yang ada di benaknya hanyalah kesedihan serta penyesalan karena telah melanggar janji untuk tidak membuat sang isteri tertawa.

Namun ibarat pepatah, nasi telah menjadi bubur. Dayang Kumunah telah menjelma menjadi ikan bersisik mengkilat dan berekor layaknya sepasang kaki perempuan yang disilangkan. Oleh masyarakat setempat ikan itu kemudian dinamakan sebagai patin. Dahulu mereka pantang memakan ikan patin karena dianggap sebagai jelmaan Dayang Kumunah.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Kabupaten Lampung Barat

Letak dan Keadaan Alam
Lampung Barat adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam provinsi Lampung dengan batas geografis sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan (Provinsi Bengkulu) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Provinsi Sumatera Selatan); sebelah timur dengan Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Lampung Tengah; sebelah selatan dengan Selat Sunda dan Kabupaten Tanggamus; dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Kabupaten yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1991 yang diundangkan tanggal 16 Juli 1991 ini memiliki luas wilayah sekitar 2.141,57 km² atau 495.040 ha dengan titik koordinat 40° 47’ 16” – 50° 56’ 42” Lintang Selatan dan 103° 35’ 08” – 104° 33’ 51” Bujur Timur (id.wikipedia.org).

Kabupaten Lampung Barat terdiri atas 15 Kecamatan yang mencakup 5 kelurahan serta 131 pekon (desa). Ke-15 kecamatan itu beserta luasnya adalah sebagai berikut: (1) Kecamatan Balik Bukit beribukota di Pasar Liwa terdiri atas 10 pekon dan 2 kelurahan seluas 175,63 km2 (8,20%); (2) Kecamatan Sukau beribukota di Buay Nyerupa terdiri atas 10 pekon seluas 223,10 km2 (10,42%); (3) Kecamatan Belalau beribukota di Kenali terdiri atas 10 pekon seluas 217,93 km2 (10.18%); (4) Kecamatan Sekincau beribukota di Pampangan terdiri atas 4 pekon dan 1 kelurahan seluas 118,28 km2 (5,52%); (5) Kecamatan Suoh beribukota di Sumber Agung terdiri atas 7 pekon seluas 170,77 km2 (7,97%) (6) Kecamatan Batubrak beribukota di Pekon Balak terdiri atas 11 pekon seluas 261,55 km2 (12,21%); (7) Kecamatan Sumber Jaya beribukota di Tugu Sari terdiri atas 5 pekon dan 1 kelurahan seluas 195,38 km2 (9,12%); (8) Kecamatan Way Tenong beribukota di Mutar Alam terdiri atas 8 pekon dan 1 kelurahan seluas 116,67 km2 (5,45%) (9) Kecamatan Gedung Surian beribukota di Gedung Surian terdiri atas 5 pekon seluas 87,14 km2; (4,07%); (10) Kecamatan Kebun Tebu beribukota di Putra Jaya terdiri atas 10 pekon seluas 14,58 km2 (0,68%); (11) Kecamatan Air Hitam beribukota di Semarang Jaya terdiri atas 10 pekon seluas 76,23 km2 (3,56%); (12) Kecamatan Pagar Dewa beribukota di Basungan terdiri tas 10 pekon seluas 110,19 km2 (5,15%); (13) Kecamatan Batu Ketulis beribukota di Bakhu terdiri atas 10 pekon seluas 103,70 km2 (4,84%); (14) Kecamatan Bandar Negeri Suoh beribukota di Sri Mulyo terdiri atas 10 pekon seluas 170,85 km2 (7,98%); dan (15) Kecamatan Lumbok Seminung beribukota di Lumbok terdiri atas 11 pekon dengan luas 22,40 km2 (1,05%) (BPS Kabupaten Lampung Barat, 2016; dan bappeda.1x24jam.com).

Topografi Kabupaten Lampung Barat bervariasi mulai dari dataran rendah hingga tinggi (perbukitan dan pegunungan). Dataran rendah yang ketinggiannya 0,1-500 meter dari permukaan air laut hanya sekitar 27,2% dari seluruh wilayah Lampung Barat. Demikian pula dengan dataran di atas 1.001 meter dari permukaan air laut hanya sekitar 25,9%. Sedangkan porsi yang paling besar (46,9%) adalah berupa dataran yang berketinggian antara 501-1.000 meter di atas permukaan air laut.

Iklim yang menyelimuti daerahnya sama seperti daerah lain di Indonesia, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya dimulai pada Oktober - Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April - September. Curah hujannya rata-rata 2.500-3.000 milimeter per tahun. Sedangkan, temperaturnya rata-rata 20-30 Celcius. Sesuai dengan iklimnya yang tropis maka flora yang ada di sana pada umumnya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: jati, kelapa, bambu, tanaman buah (seperti rambutan, manggis, duku, dan durian), padi, dan tanaman palawija (seperti jagung, kedelai, singkong, dan mentimun). Fauna yang ada di wilayah kabupaten ini seperti yang biasa diternakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Kependudukan
Penduduk Kabupaten Lampung Barat Berjumlah 293.105 jiwa. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 155.804 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 137.301 jiwa. Sedangkan jika dilihat berdasarkan golongan usia, maka penduduk yang berusia 0-14 tahun ada 82.584 jiwa, kemudian yang berusia 15-54 tahun ada 181.822 jiwa, dan yang berusia 55 tahun ke atas sejumlah 28.699 jiwa. Ini meninjukkan bahwa penduduk Kabupaten Lampung Barat sebagian besar berusia produktif.

Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat (2016), dibandingkan tahun sebelumnya, penduduk Lampung Barat mengalami pertumbuhan sebesar 1,19% dengan masing-masing persentase pertumbuhan penduduk laki-laki sebesar 1,01% dan perempuan sebesar 1,16%. Sedangkan kepadatan penduduknya mencapai 136 jiwa/ km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sejumlah 4 orang. Kepadatan penduduk di 15 kecamatan cukup beragam dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Way Tenong (600 jiwa/ km2) dan terendah di Kecamatan Peudada sebesar 67 jiwa/ km2.

Pemerintahan
Perintahan Kabupaten Lampung Barat memiliki sejarah yang relatif masih baru karena merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Utara. Kabupaten Lampung Utara sendiri terbentuk setelah Gubernur mengeluarkan keputusan Nomor 113 tanggal 17 Mei 1946 yang berisi pemecahan Residen Lampung menjadi tiga, yaitu: Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan. Kemudian, ditetapkan lagi melalui Undang-undang Nomor 4 Darurat Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten di lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Dalam Bab I Pasal 1 dan 2 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Lampung Utara menjadi sebuah kabupaten dengan batas-batas wilayah sesuai dengan Ketetapan Residen Lampung tanggal 15 Juni 1946 Nomor 304.

Namun, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, kabupaten yang awalnya memiliki luas sekitar 58% dari luas Provinsi Lampung ini akhirnya dimekarkan sebanyak tiga kali. Pemekaran pertama dilakukan pada tahun 1991 dengan terbentuknya Kabupaten Lampung Barat. Pemekaran kedua membentuk sebuah kabupaten baru lagi bernama Tulang Bawang berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1997. Dan, pemekaran terakhir berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1999 membentuk Kabupaten Way Kanan.

Pembentukan Kabupaten Lampung Barat menjadi kabupaten yang otonom ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 6 Tahun 1991 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Lampung Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3452) tanggal 16 Agustus 1991. Oleh karena sejak berdiri terjadi perkembangan yang cukup signifikan dalam bidang pemerintahan yang awalnya hanya terdiri dari enam kecamatan, maka pada tahun 2012 dimekarkan lagi menjadi 26 kecamatan. Dan, dari ke-26 kecamatan itu 11 diantaranya digabungkan menjadi kabupaten tersendiri yaitu Kabupaten Pesisir Barat berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2012 tentang pemekaran Daerah Otonom Baru Pesisir Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2012 Nomor 231 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5364).

Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Kabupaten Lampung Barat juga memiliki lambang daerah. Sebelum berganti logo, bentuk lambang daerah Lampung Barat menyerupai perisai bersudut lima yang menggambarkan bahwa masyarakat Lampung Barat sanggup mempertahankan cita-cita bangsa Indonesia dan melanjutkan pembangunan serta memajukan daerah berdasarkan Pancasila. Di dalam lambang tersebut terdapat gambar-gambar atau lukisan-lukisan sebagai berikut: (a) siger yang melambangkan empat paksi atau atau buay (kelompok adat), yaitu Buay Pernong, Buay Belunguh, Buay Bejalan Di Way, dan Buay Nyerupa; (b) pita berbentuk pintu gerbang bertuliskan "Lampung Barat" dalam aksara Lampung berwarna putih melambangkan masyarakat asli adalah masyarakat Lampung yang siap menerima kedatangan masyarakat pendatang dan bekerja sama dalam membangun daerah; (c) biji kopi berjumlah 24 buah berdaun sembilan helai serta bulir padi sejumlah 91 butir melambangkan peresmian terbentuknya Kabupaten Lampung Barat pada tanggal 24 September 1991; (d) bambu buntu beruas lima buah melambangkan bahwa Kabupaten Lampung Barat merupakan daerah tingat II kelima di Provinsi Lampung; (e) perisai kecil bergambar pegunungan, daun, dan air melambangkan wilayah Lampung Barat merupakan dataran tinggi yang terdiri dari hutan lindung dan pertanian; (f) air beralur enam buah melambangkan bagian barat kabupaten ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia serta melambangkan pula enam tatanan masyarakat adat; dan (g) keris serta tombak melambangkan senjata asli masyarakat Lampung yang digunakan untuk membela diri dari berbagai ancaman (www.kemendagri.go.id).
Selain itu, kabupaten ini juga memiliki misi yaitu Terwujudnya masyarakat Lampung Barat yang "CEKATAN" (Cerdas, Kreatif, Aman, Taqwa, dan Andalan). Sedangkan misinya adalah: meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan kerukunan hidup umat beragama; mengentaskan kemiskinan berbasiskan kegiatan ekonomi kerakyatan serta pembangunan yang berwawasan lingkungan dan kesinambungan; meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau; meningkatkan kualitas pelayanan umum, jaringan transportasi dan komunikasi; dan meningkatkan kesadaran politik dan demokratisasi guna menciptakan pemerintahan yang bersih dan baik dan mewujudkan kemanan, ketertiban dan kenyamanan.

Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kabupaten, Lampung Barat tentu saja memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi masyarakatnya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini, diantaranya adalah: 210 buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 30.679 orang dan 2.604 tenaga pengajar; dan 55 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 10.978 orang dan 1.130 orang tenaga pengajar.; 35 buah Madrasah Ibtidaiyah dengan jumlah siswa sebanyak 3.531 orang dan 267 orang tenaga pengajar; 39 buah Madrasah Tsanawiyah dengan jumlah siswa sebanyak 6.083 orang dan 150 orang tenaga pengajar; dan 14 buah Madrasah Aliyah dengan jumlah siswa sebanyak 6.210 orang dan 333 orang tenaga pengajar.

Sedangkan untuk sarana kesehatan terdapat 1 buah rumah sakit, 1 buah rumah bersalin, 17 buah puskesmas, 17 buah posyandu, 18 buah Polindes, dan 14 buah klinik/balai kesehatan. Berdasarkan data yang tercatat pada Balap Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat tahun 2016 tercatat 1.412 orang tenaga kesehatan, diantaranya adalah: 3 dokter spesialis, 3 dokter gigi, 13 dokter umum, 285 orang bidan, dan 17 orang tenaga kesehatan lainnya (BPS Kabupaten Lampung Barat, 2016).

Perekonomian
Letak Kabupaten Lampung Barat yang relatif jauh dari ibukota provinsi (Bandarlampung) membuat perekonomian mayoritas penduduknya masih mengandalkan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut data dari BPS Kabupaten Lampung Barat, hanya sebagian kecil lahan saja yang digunakan sebagai areal perumahan. Selebihnya, merupakan lahan pertanian, perladangan, dan kolam, dengan rincian: padi sawah seluas 11.010 ha, padi irigasi non teknis seluas 2.433 ha, bawang daun seluas 289 ha, cabai seluas 418 ha, kacang panjang seluas 418 ha, kubis seluas 144 ha, petsai seluas 423 ha, kopi robusta seluas 53.606 ha dengan produksi sebanyak 52.644 ton, lada seluas 3.644 ha, kayu manis seluas 832,5 ha, kakao seluas 713, 4 ha, cengkeh seluas 608 ha, labu seluas siam seluas 2.525 ha, dan kelapa seluas 617,6 ha.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh Masyarakat Kabupaten Lampung Barat sangat beragam, yaitu: Islam (97,27%), Kristen (1,11%), Katolik (0,92%), Hindu (0,52%), Budha (0,18%), dan aliran Kepercayaan. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid, musholla dan langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat, jumlah mesjid yang ada di sana mencapai 487 buah dan musholla/langgar/surau mencapai 237 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 13 buah, agama Hindu mencapai 5 buah, dan agama Budha hanya ada 4 buah vihara atau kelenteng. Sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan atau gedung pertemuan maupun jumlah penganut aliran kepercayaan belum ada. (ali gufron)

Sumber:
Lampung Barat Dalam Angka 2016. 2016. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat.

"Kabupaten Lampung Barat", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lampung _Barat, tanggal 5 Mei 2016.

"Kabupaten Lampung Barat", diakses dari http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/ kabupaten/id/18/name/lampung/detail/1804/lampung-barat, tanggal 5 Mei 2016.

"Tentang Lampung Barat", diakses dari http://bappeda.1x24jam.com/tentang-lampung-barat/, tanggal 6 Mei 2016.

Oen Sin Yang

Berbicara mengenai kesenian gambang kromong, terutama yang menyajikan lagu-lagu dalem, tentu tidak akan lepas dari sosok bernama Oen Sin Yang atau akrab disapa sebagai Goyong/Go Yong. Dia adalah seniman sekaligus pembuat alat musik tradisional tehyan. Tehyan/teh-hian merupakan sebuah alat musik bernada siang (e) dan liuh (g) yang terdiri atas resonator (wadah gema) dari tempurung kelapa yang dibelah lalu dilapis kulit tipis, tiang kayu berbentuk bulat panjang, dan purilan atau alat penegang dawai. Tehyan dimainkan dengan cara digesek menggunakan tongkat bersenar plastik (kenur).

Kepiawaian Goyong memainkan tehyan tidak lepas dari peran Sang ayah, Oen Hok. Oen Hok sendiri awalnya bukanlan seorang seniman. Menurut satelitnews.co.id, Oen Hok hanyalah seorang penjual es lilin keliling yang sering nongkrong di pertunjukan lenong sekitar Kota Tangerang sambil menjajakan dagangannya. Di situ dia yang waktu itu telah menduda berkenalan dan akhirnya menikah dengan salah seorang panjak bernama Masnah (Pan Tjin Nio). Ibu tiri Goyong ini merupakan legenda dalam kesenian gambang kromong. Dialah satu-satunya seniman Betawi yang masih dapat menyanyikan salah satu jenis lagu dalam kesenian gambang kromong, yaitu lagu dalem.

Ada beberapa versi mengenai jenis lagu dalam kesenian gambang kromong. Versi pertama berasal dari Sopandi dkk, 1992, yang menyatakan bahwa jenis lagu gambang kromong ada tiga macam, yaitu phobin, sayur, dan lagu untuk rancag. Lagu phobin adalah lagu berirama cepat yang dibawakan dalam bentuk instrumentalia. Lagu sayur adalah lagu selingan atau hiburan, seperti: Versi, Jali-jali, Cente Manis, Cente Manis Gula Batu, Cente Manis Kelapa Muda, Surilang, Balo-balo, Stambul Siliwangi, Jali-jali Kalih Jodo, Jali-jali Si Ronda, Jali-jali Pasar Malam, Jali-jali Bunga Siantan, Jali-jali Ujung Menteng, Jali-jali Kramat Karem. Dan, jenis lagu rancag adalah lagu iringan dan lagu vokal dalam penyajian rancag, seperti: Sipitung, Siangkri, Orang Bujang, Galatik Unguk, Stambul.

Sementara versi lainnya lagi menyatakan bahwa lagu gambang kromong hanya terdiri dari dua jenis, yaitu: lagu dalem dan lagu sayur. Lagu dalem adalah lagu yang masih kental dengan nuansa musik Tionghoa. Jenis lagu ini umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: phobin, musik dan vokal, lalu diakhiri dengan lopan. Komposisinya dapat berupa phobin--musik dan vokal--lopan atau phobin-musik dan vokal-phobin. Irama phobin dan lopan yang sama dapat dimainkan untuk mengiringi lagu yang berbeda.

Phobin merupakan intro atau musik pengantar berdurasi pendek sebelum suara vokal masuk. Menurut Kwa (2005), dahulu phobin merupakan irama khusus yang digunakan untuk mengiringi berbagai macam upacara dalam lingkaran hidup masyarakat Tionghoa tradisional. Judul phobin umumnya menggunakan nama-nama tokoh dalam cerita rakyat Tionghoa berdialek Hokkian di Cina Selatan, seperti: Phobin Poa Si Litan, Phobin Peh Pan Tau, Phobin Cu Te Pan, Phobin Cai Cu Siu, Phobin Cai Cu Teng (Punjung Cendekiawan Berbakat), Phobin Seng Kiok, Ma To Jin (Pendeta Perempuan), Jin Kui Hwe Ke (Jin Kui Pulang Kampung), Lui Kong (Dewa Halilintar), Cia Peh Pan, It Ki Kim (Setangkai Emas), Tai Peng Wan (Teluk Perdamaian dan Ketenteraman), Pek Bou Tan (Bunga Peoni Putih), Cai Cu Siu (Kekayaan, Keturunan dan Usia Panjang), Kim Hoa Cun (Perahu Bunga Emas), Liu Tiau Kim, Si Sai Hwe Ke, Ban Kim Hoa (Berlaksa Bunga Emas), Pat Sian Kwe Hai (Delapan Dewa Menyeberangi Laut), Lian Hoa The (Tubuh Bunga Teratai), Se Ho Liu, Hong Tian, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Kong Ji Lok, Coan Na, Ki Seng Co, Ciang Kun Leng, Tio Kong In, Sam Pau Hoa, Pek Hou Tian, Kim Sun Siang, Ce Hu Liu, Bangliau, Li Ten Hwe Bin, Phobin Kong Ji Lok, dan lain sebagainya.

Untuk dapat memainkan lagu-lagu phobin tersebut, seseorang harus menggunakan notasi dalam huruf Tionghoa yang biasa dipakai unuk lagu-lagu Hokkian Selatan. Oleh karena itu, sekarang sudah sangat jarang ada pemusik gambang kromong yang dapat memainkan lagu phobin secara lengkap. Kalau pun ada, hanya beberapa judul saja, seperti Phobin Khong Ji Lok serta beberapa phobin sebagai pengiring upacara inisiasi menjelang pernikahan atau kematian di kalangan orang Tionghoa tradisional (Kwa, 2005).

Setelah lagu phobin barulah vokal penyanyi masuk dalam tempo lambat dan monoton. Syair yang dilantunkan diambil dari kumpulan pantun Melayu-Betawi atau syair Tionghoa koleksi penyanyinya dan diiringi instrumen musik yang didominasi oleh suling, kong-a-hian, teh-yan dan su-kong tanpa menggunakan instrumen modern. Judul lagu dalem bersyair Melayu-Betawi diantaranya adalah: Peca Piring, Semar Gunem, Mawar Tumpa, Mas Nona, Gula Ganting, Tanjung Burung, Nori Kocok (Burung Nuri), Centeh Manis Berduri, Dempok, Temenggung, Menulis, Enko Si Baba, Indung-indung, Jungjang Semarang, Kulanun Salah, Gunung Payung, Bong Tjeng Kawin, Mas Mira, Persi Kocok, dan Duri Rembang. Sedangkan, yang bersyair Tionghoa adalah: Poa Si Li Tan, Bangliau, Tan Sha Sioe Khie, Gouw Nio, dan Tang Hoa Ko Nyanyi. Lagu dalem kemudian diakhiri dengan lopan atau musik pengakhir lagu dengan judul berbahasa Tionghoa atau Melayu-Betawi, misalnya Lopan Tukang Sado.

Lepas dari berbagai versi lagu tersebut, yang jelas melalui Masnahlah Oen Hok mengenal dan mendalami musik gambang kromong. Bersama kelompok gambang kromong Irama Bersatu mereka ngamen ke berbagai daerah di Jakarta hingga ke Mancanegara, seperti Belanda, Jepang, dan Amerika Serikat. Bahkan, baik Oen Hok maupun Masnah, masing-masing sempat menelurkan album rekaman berlabel Rounder Record, Camp Street Cambridge, Massacuhsetts dan Smithsonian Folkways Recordings (satelitnews.co.id).

Oleh karena aktivitas kedua orang tua berkutat di dunia seni, tentu saja Goyong kecil menjadi terbiasa melihat dan mencoba memainkan peralatan musik yang digunakan, khususnya tehyan. Walau awalnya tidak berpikir untuk mengikuti jejak orang tua, tetapi dalam umur delapan tahun Goyong mampu menguasai tehyan dan juga membaca tangga nada secara otodidak (infonitas.com). Padahal, menurut satelitnews.co.id, Goyong tidak secara khusus belajar tehyan dari Oen Hok. Dia belajar hanya dengan cara melihat ayah dan anggota gorup Irama Bersatu bermain gambang kromong.

Goyong baru serius menekuni tehyan setelah Sang Ayah meninggal dunia. Bersama dengan group Irama Masa yang didirikannya, pada tahun 1987 Goyong mulai ngamen keliling Tangerang mengisi acara perkawinan, perayaan imlek, hingga upacara kematian (tugaskab.blogspot.co.id). Awal kariernya ini secara tidak langsung terbantu oleh ketenaran Sang Ayah. Para penggemar yang merasa kehilangan Oen Hok mulai beralih pada Goyong karena dianggap sebagai "titisannya". Mungkin, mereka beranggapan bahwa buah jatuh pasti tidak jauh dari pohonnya. Gaya permainan tehyan Goyong kemungkinan besar tidak akan jauh dari Oen Hok.

Seiring waktu, permainan tehyan Goyong semakin diakui pula oleh masyarakat, baik yang tinggal di Tangerang maupun daerah lain di Indonesia. Masyarakat Tionghoa yang tinggal di daerah Bangka Belitung misalnya, sering mengundangnya mengisi acara-acara keagamaan. Bila didaulat mengisi acara pernikahan, dia akan membawakan lagu-lagu berirama Cio Taw yang bernuansa riang gembira. sementara bila berada dalam upacara kematian dia akan membawakan lagu-lagu dalem yang sendu dan relatif sulit dimainkan.

Bahkan, berkat usahanya melestarikan kesenian gambang kromong dan alat musik tehyan, dia pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Banten dan Walikota Tangerang (husnimunir.wixsite.com). Penghargaan dari Walikota Tangerang diserahkan pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 2012 atas jasa Goyong sebagai seniman yang memajukan seni dan budaya Kota Tangerang. Sedangkan penghargaan dari Gubernur Banten diberikan pada tahun 2010 sebagai praktisi seni dan budaya tingkat provinsi (satelitnews.co.id). Selain diberi penghargaan, dia juga didaulat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang untuk melatih tehyan pada guru serta siswa sekolah di Kota Tangeran. Namun, pelatihannya hanya dilaksanakan setiap tiga bulan sekali (infonitas.com).

Namun, sebagaimana seniman tradisional pada umumnya, Goyong juga dihadapkan dengan masalah klasik, yakni aktivitas berkesenian tidak dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Oleh karenanya, disela-sela jadwal manggungnya yang kian jarang, pria yang tinggal di Kampung Sewan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang ini juga membuat tehyan untuk diperjual belikan berdasarkan pesanan. Adapun pembelinya dari berbagai kota di Indonesia (Surabaya, Bangka, Jakarta, Balikpapan), hingga ke mancanegara (Belanda). Dan, bila tidak ada pesanan, bersama anak lelakinya Goyong menebar jala di Pintu Air 10.








Foto: Ali Gufron
Sumber:
"Oen Sin Yang", diakses dari http://husnimunir.wixsite.com/scopophilia/single-post/2014/ 12/24/Oen-Sin-Yang, tanggal 25 November 2016.

"Goyong, Hanya Ingin Tehyan Lestari", diakses dari http://satelitnews.co.id /read/2012/11/12/goyong-hanya-ingin-tehyan-lestari, tanggal 25 November 2016.

"Oey Sin Yang, Tak Ingin Budaya Ditelan Zaman", diakses dari http://www.infonitas.com /profil/tak-ingin-budaya-ditelan-zaman/12962, tanggal 25 November 2016.

" Tradisi Seni dalam Cina Benteng: Gambang Kromong", diakses dari http://tugaskab. blogspot.co.id/2013/01/tradisi-seni-dalam-cina-benteng-gambang.html, tanggal 26 November 2016.

Sopandi, Atik. dkk. (1992). Gambang Rancag. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Kwa, D. 2005. "Lebih dalam tentang gambang kromong & wayang", dalam Jurnal cisadane, 7: 10-15.

Mapag Galeng

Mapag galeng adalah istilah orang Sunda bagi kegiatan memperbaiki tepian sawah (pematang atau galengan) agar terlihat rapi. Pekerjaan yang disebut sebagai mapag atau numpang galeng ini dilakukan setelah ngawalajar (pembalikan tanah sawah) selesai dilakukan. Adapun alat yang digunakan berupa cangkul atau pacul. Caranya adalah dengan mencangkul tanah lalu menaruhnya di tepian pematang sambil diinjak-injak agar membentuk pematang yang padat. Dalam satu hektar sawah tenaga yang diperlukan untuk mapag sekitar 4 hingga 6 orang. Mereka umumnya adalah buruh laki-laki yang bekerja mulai dari pukul 07.00 hingga masuk waktu ngabedug (magrib).


Foto: Ali Gufron

Ampyang

Bila mendengar kata ampyang, maka pikiran kita akan tertuju pada penganan khas Jawa tengah yang rasanya manis, bentuknya bundar, berwarna coklat, dan permukaannya dipenuhi oleh butiran kacang tanah. Selain kacang tanah, bahan pembuat lainnya adalah gula merah atau gula jawa, gula pasir, jahe, air, dan daun pisang sebagai alasnya. Sedangkan proses pembuatannya diawali dengan pemarutan atau pencincangan gula merah lalu dilanjutkan dengan pesangraian kacang tanah dan pengirisan jahe. Bila bahan-bahan tersebut telah siap, proses selanjutnya adalah peleburan menjadi adonan dengan bantuan air di dalam wajan hingga mengental. Dan terakhir, pembentukan adonan menjadi lingkaran tipis di atas daun pisang atau kertas roti. Setelah dingin dan mengeras, ampyang siap disajikan.

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=v1ZTxtjo3_0

Popular Posts

-