Lomba Makan Kerupuk

Kerupuk adalah makanan bertekstur garing yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia sebagai pelengkap makanan utama (nasi). Kerupuk terbuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan atau perasa lainnya yang dikukus kemudian disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak lalu dijemur agar mudah digoreng dengan minyak atau pasir (kbbi.web.id).

Oleh karena proses pembuatan dan pemasakannya berbeda-beda, maka kerupuk memiliki cukup banyak varian, yaitu: kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk ikan palembang, kerupuk mie kuning, kerupuk kedelai, kerupuk Bangka, kerupuk aci, kemplang, kerupuk bawang putih, kerupuk bawang, kerupuk kulit, kerupuk melarat, kerupuk gendar, kerupuk sanjai, rengginang, rempeyek, rambak, kerupuk ceker ayam, dan lain sebagainya (id.wikipedia.org, jendelakamu.blogspot.co.id).

Sebagai penganan yang populer dan merakyat, makan kerupuk dijadikan sebagai salah satu dari sekian banyak perlombaan yang selalu rutin diadakan pada saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Sesuai dengan namanya, dalam permainan ini para pesertanya diharuskan untuk menggigit dan memakan habis sebuah kerupuk yang digantungkan menggunakan seutas tali. Mengenai kapan dan dimana pertama kali muncul permainan ini sudah tidak diketahui lagi, namun sejak adanya pelbagai macam permainan untuk memperingati dan memeriahkan hari kemerdekaan, permainan makan kerupuk selalu diikutsertakan.

Pemain
Perlombaan makan kerupuk dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak, remaja, dan dewasa yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan berusia 5-45 tahun. Selain pemain, lomba ini juga menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan makan kerupuk tidak membutuhkan empat atau arena yang luas. Ia dapat dimainkan di mana saja, seperti: halaman/pekarangan rumah atau tanah lapang. Sedangkan, peralatan yang digunakan adalah: (1) kerupuk ikan atau udang berwarna putih dan berbentuk bulat; (2) tali rafia untuk menggantungkan kerupuk secara berjejer; dan (3) batang bambu atau kayu yang nantinya akan dijadikan sebagai mistar tempat untuk menggantungkan kerupuk.

Aturan Permainan
Aturan dalam perlombaan makan kerupuk tergolong mudah. Peserta diharuskan menggigit dan memakan hingga habis kerupuk yang telah digantungkan oleh panitia lomba. Bagi peserta yang dapat menghabiskan kerupuk dalam waktu paling cepat, dinyatakan sebagai pemenangnya.

Jalannya Permainan
Apabila panitia perlombaan telah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan permainan, maka mereka akan memanggil para peserta untuk berdiri tepat di depan kerupuk yang digantungkan. Tinggi kerupuk dari kepala peserta kadang disamakan (rata) dan kadang pula dibedakan (bergantung dari tinggi badan tiap peserta). Setelah peserta siap dengan posisi tangan dibelakang (dilarang memegang kerupuk), panitia akan memberikan aba-aba sebagai tanda perlombaan dimulai.

Saat aba-aba diberikan para peserta segera mulai menggigit dan memakan kerupuk yang digantungkan dengan tali rafia setinggi kira-kira beberapa sentimeter di atas mulut. Keadaan ini membuat peserta harus ber"jinjit" agar dapat menggigit kerupuk yang posisinya tidak tetap karena selalu berputar mengikuti hentakan mulut peserta yang mencoba menggigitnya. Dan, apabila ada peserta yang berhasil menghabiskan kerupuknya, maka dia dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai makan kerupuk ini adalah: kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain untuk dapat mengigit dan memakan kerupuk hingga habis agar menjadi pemenang. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang dengan memegangi kerupuk saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (ali gufron)

Foto: http://lampung.tribunnews.com/2016/05/14/balita-susah-makan-jangan-dibiarkan-makan-kerupuk
Sumber:
"Kerupuk", diakses dari http://kbbi.web.id/kerupuk, tanggal 25 Agustus 2016.

"Sejarah Kerupuk", diakses dari http://jendelakamu.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-kerupuk.html, tanggal 25 Agustus 2016.

"Kerupuk", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk, tanggal 26 Agustus 2016.

Tursandi Alwi

Tursandi Alwi merupakan satu-satunya satu putra Lampung Barat yang berhasil menduduki posisi di lingkar dalam orang nomor dua di Republik Indonesia sebagai sekretaris wakil presiden. Posisi ini diembannya karena dinilai sangat matang pengalaman dalam urusan birokrasi pemerintahan. Tursandi telah menempuh hampir semua jenjang birokrasi, mulai dari wakil camat hingga tiga kali menjadi pejabat pelaksana gubernur (Wardoyo, dkk: 2008).

Pria yang lahir di Sukau tanggal 14 Oktober 1950 ini mulai mengenal dunia birokrasi ketika mengenyam pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Palembang pada tahun 1973. Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya ke Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta hingga lulus tahun 1977. Tidak puas hanya mendapat satu gelar, Tursandi sekolah lagi di Universitas Tarumanegara hingga meraih gelar Sarjana Hukum Tata Negara tahun 1991. Dan terakhir, dilanjutkan dengan Magister Management di IPWI Jakarta tahun 1997 (www.bijaks.net).

Sedangkan karirnya dalam birokrasi pemerintahan diawali dengan menjadi Wakil Camat Jakarta Barat lalu naik menjadi Camat Jakarta Barat, dan Wakil Walikota Jakarta Barat. Kemudian oleh Departemen Dalam Negeri dia diangkat sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan, Dirjen Pembangunan Daerah, dan Dirjen Sosial Politik Depdagri. Selesai menjabat sebagai Dirjen Sosial Politik, dia dilantik menjadi Pejabat Gubernur Gorontalo pada 16 Februari 2001 ketika wilayah itu baru saja dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara.

Dari Gorontalo Tursandi dialihkan ke kampung halamannya untuk menjadi Pejabat Gubernur Lampung pada 5 Februari 2003 ketika suasana politik tengah memanas akibat tidak dilantiknya gubernur terpilih Alzier Dianis Thabrani. Walau sulit, Tursandi melewati masa-masa itu dengan bijak sehingga dapat meredam suhu politik sampai gubernur baru Sjachroedin Z.P dan pasangannya Syamsurya Ryaccudu dilantik pada 2 Juni 2004 (id.wikipedia.org).

Lepas dari Lampung, Tursandi dilantik lagi sebagai Pejabat Gubernur Kalimantan Selatan (2005-2006). Selanjutnya ditarik ke Jakarta untuk menjadi Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Pemerintahan tahun 2006-2007. Dari staf ahli menteri, pria yang enggan disebut tokoh ini akhirnya diangkat menjadi Sekretaris Wakil Presiden pada tanggal 26 April 2007. Tiga tahun berikutnya (2010) dia menjabat sebagai Komisaris PT Angkasa Pura II.

Foto: https://www.scribd.com/doc/211466374/Profil-Tursandi-Alwy
Sumber:
"Tursandi Alwi", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tursandi_Alwi, tanggal 7 Juni 2016.

"Tursandi Alwi", diakses dari http://www.bijaks.net/aktor/profile/htursandialwi5153b7a5 bc15c, tanggal 7 Juni 2016.

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 244-246.

Farid Anfasa Moeloek

Farid Anfasa Moeloek atau lebih lengkapnya Prof. Dr. H. Farid Anfasa Moeloek, Sp.O.G. bukanlah nama asing dalam dunia kesehatan di Indonesia. Pria kelahiran Liwa ini pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan Republik Indonesia sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Soeharto (Kabinet Pembangunan VII) dan dalam Kabinet Reformasi masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie (23 Mei 1998-23 Oktober 1999)1.

Farid adalah anak dari Abdoel Moeloek, seorang dokter asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang namanya begitu lekat dengan masyarakat Lampung sehingga diabadikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Bandarlampung. Kiprah Abdoel Moeloek di dunia kedokteran sendiri dimulai ketika dia merantau ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di Stovia, sekolah kedokteran yang didirikan Belanda2. Lulus dari Stovia Abdoel Muluk memutuskan hijrah ke Semarang dan bekerja sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Dokter Karyadi. Namun, karena situasi politik dan keamanan waktu itu tidak mendukung, Abdul Moelok mengasingkan diri ke Desa Winong, Liwa, Lampung Barat2.

Di Liwa Abdoel Moelok Mengabdikan diri menjadi dokter bagi rakyat kecil yang berada di sekitar tempat tinggalnya, sementara isterinya Poeti Alam Naisjah bekerja sebagai guru. Saat menetap di Liwa inilah Farid lahir pada tanggal 28 Juni 1944. Tidak lama setelahnya (ketika bangsa Indonesia merdeka) Abdoel Moeloek beserta keluarga pindah ke Tanjung Karang untuk menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang yang sebelumnya dikelola oleh Jepang.

Semasa kecil, Farid mengenyam pendidikan dasar hingga menengahnya di Tanjung Karang. Oleh karena ingin menjadi tukang insinyur, selepas SMA dia hijrah ke Bandung dan masuk ke Fakultas Teknis Sipil Institut Teknologi Bandung. Namun baru berjalan beberapa bulan (sekitar tiga bulan), menurut Pramudiarja (2012) Farid memutuskan pindah ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) karena ada sedikit "intervensi" dari keluarga yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter. Sementara menurut Farid sendiri yang dilansir oleh pdpersi.co.id, ada dua alasan kepindahannya ke FKUI, yaitu: ingin tampil beda dari abangnya yang sudah lebih dahulu menjadi engineer dan terpengaruh oleh figur ayahnya terutama saat menghadapi Belanda. Waktu itu, sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang Abdoel Moeloek bekerja siang malam menangani para korban perang. Dengan mengutamakan rasa kemanusiaannya, dia merawat seluruh korban yang datang ke rumah sakit tanpa membedakan apakah itu pejuang republik atau serdadu Belanda.

Lepas dari keterpaksaan atau tidaknya masuk FKUI yang jelas pada tahun 1970 Farid berhasil menamatkan pendidikannya dan memperoleh gelar dokter. Bahkan tidak hanya gelar yang diperoleh dari FKUI, melainkan juga pasangan hidup bernama Nila Juwita. Mereka menikah pada tahun 1972. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Muhamad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek, dan Puti Annisa Moeloek. Ketiganya dididik secara demokratis, termasuk dalam menentukan jenis pendidikan yang akan ditempuh setelah tamat SMA. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah dewasa tidak ada yang mengikuti jejak Farid menjadi dokter. Alasannya cukup sederhana, yaitu profesi dokter relatif sibuk dan tidak mengenal waktu5.

Empat tahun setelah menikah (1976) Farid yang tetap melanjutkan pendidikannya berhasil meraih gelar Sp.O.G (spesialis obgyn dan gynecologi atau kandungan dan kebidanan) di fakultas yang sama. Dan, tidak puas dengan gelar tersebut, Farid sekolah lagi hingga menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran dengan predikat Cum Laude, juga dari fakultas yang sama.

Selain mendapat ijazah dari FKUI Farid juga sempat mengecap pendidikan di luar negeri, di antaranya: (a) The Course in Fertility Management and MCH Care (Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak) yang diselenggarakan tahun 1977 oleh WHO di Singapura; (b) The Course in Infertility Management and Gynbaecologic Microsurgery di Universitas John Hopkins, Baltimore, USA (1979); dan (c) Advance Course in Operative Endoscopy in Fertility and Infertility di Elizabet Krankenhouse, Hamburg, Jerman (1980)5.

Sebelum mendapat gelar strata duanya Farid telah memulai karir di bidang kedokteran dengan menjadi staf pengajar di FK UI. Dia mengajar ilmu kebidanan dan ilmu lingkungan untuk mahasiswa strata satu dan Obstetri serta Ginekologi untuk Pascasarjana. Selanjutnya, dia sempat menjadi Direktur Pascasarjana UI dari tahun 1996-1998; Kepala Subbagian Kesehatan Reproduksi Klinik Raden Saleh; Deputi Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1990-1996); menjadi anggota MPR RI (1999); Ketua Pengarah Tim Pemeriksaan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004)6; dan Penasihat bidang Penanganan Masalah Musibah, Pelembagaan Pola Hidup Sehar, serta Pengembangan Generasi Muda HIPPRADA (Himpunan Pandu Pramuka Wreda)7.

Sementara dalam bidang keorganisasian Farid juga mengikuti sejumlah perkumpulan, diantaranya: Yayasan Koalisi Indonesia Sehat; Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI); Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI); Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI); Ikatan Dokter Indonesia (IDI); Medical Association of South East Asia Nation; Honorary Member of International Society on Human Reproduction; Honorary Member of Society on Fallopian Tube in Health and Disease5; dan General Chairman of the VIII World Congress on Human Reproduction and IV World Conference on Fallopian Tube in Health and Disease6.

Dari sekian banyak jabatan yang telah diemban oleh Farid tersebut, ada satu jabatan yang sangat prestisius yaitu sebagai Menteri Kesehatan. Pada saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden RI dan membentuk Kabinet Pembangunan VII, Farid dipercaya menduduki jabatan Menkes pada tanggal 16 Maret 1998. Jabatan ini juga tetap dia emban walau Soeharto dilengserkan dan diganti oleh BJ Habibie melalui Kabinet Reformasi Pembangunannya periode 1998-1999.

Setelah tidak menjabat sebagai menteri, pria yang dikukuhkan sebagai Guru Besar FKUI tahun 1994 ini tetap mengabdikan dirinya pada dunia kedokteran. Baginya, kesehatan merupakan hal fundamental yang dapat memutuskan rantai kemiskinan dan kebodohan di Indonesia2. Oleh karena itu, bersama para pakar dari berbagai disiplin ilmu (Prof Emil Salim, Sri Mulyani, Malik Fajar, Muladi) dia berusaha menanamkan paradigma sehat pada seluruh masyarakat Indonesia. Adapun wadahnya berupa yayasan yang diberi nama Koalisi Indonesia Sehat 2010.

Paradigma sehat yang digagas oleh Prof. Moeloek bermula dari konsepsi yang salah tentang kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, saat ini konotasi kesehatan seolah-olah hanya terfokus pada pelayanan dasar, seperti puskesmas dan rumah sakit. Padahal, di dalam konsep kesehatan sejatinya ada problem kesehatan keluarga, air bersih, rumah sehat, lingkungan sehat, gizi, maupun olahraga. Jadi, harus ada korelasi yang erat antara kesehatan individu, keluarga, masyarakat, dan perilaku bangsa2.

Agar tercapai kondisi kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka para dokterlah yang sejatinya bisa menjadi agent of changenya. Oleh karena itu paradigma sehat perlu digalakkan bagi para dokter dan masyarakat agar terjadi perubahan cara berfikir dari yang semula diartikan sebagai "bagaimana menyembuhkan orang sakit" menjadi "bagaimana warga negara Indonesia sehat mental, fisik, spiritual, lingkungan, dan sebagainya"4.

Paradigma sehat harus didukung oleh beberapa faktor penting agar cepat terlaksana, yaitu: (a) konsep atau pemikiran yang harus dijalankan; (b) competense atau kemampuan melaksanakan konsep tersebut. Competence terdiri atas rencana strategi, kendala-kendala yang dihadapi, kelemahan, kekuatan, ancaman, dan lain sebagainya; dan (c) koneksi yang saling bekerja sama dan saling mendukung4.

Adapun contoh pengejawantahan dari paradigma sehat dapat berupa pemberian dana bagi Pertamina agar dapat menarik timbal dan plumbam yang ada dalam bahan bakar minyak yang mereka produksi. Tujuannya adalah untuk mengurangi polusi udara yang dapat menyebabkan otak kanak-kanak menjadi mengkerut dan kehilangan IQ point bila menghirupnya. Contoh pengejawantahan lainnya adalah dikembangkannya konsep dokter keluarga yang sewaktu-waktu dapat berkeliling ke rumah-rumah untuk memberikan penyuluhan, memeriksa kesehatan dan lain sebaginya4.

Foto: http://www.kalbe.co.id/AboutKalbe/KalbeinBrief/BoardofCommissioners.aspx
Sumber:
1. Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 186-189.

2. Andriyani, Titik. 2009. "Keluarga Moeloek, Salah Satu Dinasti Dokter Sukses di Indonesia", diakses dari https://suprizaltanjung.wordpress.com/2013/03/18/keluarga-moeloek-salah-satu-dinasti-dokter-sukses-di-indonesia/, tanggal 22 Juli 2016.

3. Pramudiarja, AN Uyung. 2012. "Prof Dr Farid A Moeloek, SpOG Jadi Dokter karena Terpaksa", diakses dari http://health.detik.com/read/2012/01/09/112831/1810124/1201/prof-dr-farid-a-moeloek-spog-jadi-dokter-karena-terpaksa, tanggal 4 Agustus 2016.

4. "Prof DR dr H Farid Anfasa Moeloek SpOG: Indonesia Sehat, Bila Menerapkan Paradigma Sehat, diakses dari http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=189&tbl= figur, tanggal 6 Agustus 2016.

5. Santoso, Teguh Budi. 2009. "Prof.Dr.dr.H. Farid Anfasa Moeloek, SpOG", diakses dari http:// health.detik.com/read/2009/07/06/123618/1159700/774/prof-dr-dr-h-farid-anfasa-moeloek-spog, tanggal 20 Juli 2016.

6. "Faried Anfasa Moeloek" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Faried_Anfasa_ Moeloek, tanggal 22 Juli 2016.

7. "Demi Kesehatan Masyarakat Bentuk Yayasan Koalisi Indonesia Sehat 2010", diakses dari http://www. gemari.or.id/cetakartikel.php?id=933, tanggal 3 Agustus 2016.

K.H. Muhammad Arief Mahya

K.H. M. Arief Mahya adalah seorang tokoh pejuang, penulis, mubalig sekaligus ulama asal, Liwa, Lampung Barat. Laki-laki yang akrab disapa Buya ini lahir pada tanggal 6 Juni 1926 di Gedung Asin, Liwa, dari pasangan Mahya dan Fatimah. Buya adalah putera ketiga dari lima bersaudara H. Mursyid Mahya, Zainab, Drs. H. Muslim Mahya, Hj. Rotinam, dan Rofi'ah (paratokohlampung.blogspot.co.id).

Walau lahir di Gedung Asin, masa kecil Buya di tempat ini hanya dilalui selama sekitar tiga tahun. Pada akhir tahun 1929 keluarganya pindah ke Kampung Talangparis, Kecamatan Abung Tinggi, sekitar enam kilometer dari Bukit Kemuning. Di tempat inilah Buya menempuh pendidikan formalnya pada usia sekitar 7 tahun di volkschool Ulakrengas. Sepulang dari sekolah dia kemudian belajar mengaji dan ilmu agama pada saudara sepupunya, Sulaiman bin H.M. Saleh bin H.M. Nuh yang pernah nyantri di Kedah, Malaysia.

Lulus dari volkschool, Buya melanjutkan ke Madrasah Diniyah Al-Islamiyah di Tanjungmenang guna mempelajari ilmu-ilmu Islam seperti tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, hadis, tajwid, tarikh Islam, dan bahasa Arab. Setamat Madrasah, Buya kemudian ke Standardschool Wustho Zu'ama (sekolah pemimpin menengah) dan Wustho Mu'allimin (sekolah guru menengah atau Onderbouw Kweekschool) (nu-lampung.or.id). Namun karena terjadi Perang Dunia II, setamat Wustho Mu'allimin dia tidak melanjutkan sekolah tetapi memilih terjun ke medan perang merebut kemerdekaan Indonesia.

Di sela-sela perjuangannya itu, menurut Wardoyo, dkk (2008), sekitar tahun 1942 Buya sempat ikut rombongan Darwys Manan yang terdiri dari A. Halim dan Idris Mu'in berdakwah ke beberapa kampung di Way Tenong, Belalau, dan Liwa. Untuk menjalankan misi dakwahnya itu mereka harus berjalan kaki selama tiga hari tiga malam sejauh sekitar 100 kilometer. Selain berdakwah, dari tahun 1942-1943 Buya sempat mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Talangparis, Bukit Kemuning Lampung Utara dan Madrasah Muhammadiyah di Pekon Karangagung, Way Tenong, Lampung Barat.

Namun, ketika penjajahan beralih dari bangsa Belanda ke bangsa Jepang keluarga besar Buya terpaksa hidup berpindah-pindah. Adapun tujuannya adalah agar terhindar dari sistem kerja paksa BPP (Badan Pembantu Perang) yang diterapkan oleh pemerintah pendudukan Jepang guna membantu mereka berperang melawan sekutu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka berdagang dengan sistem cingkau atau menjual dan membeli berbagai macam barang dari satu daerah ke daerah lainnya hingga akhirnya menetap di Hadimulyo, Metro pada tahun 1943.

Pada awal kepidahan keluarga besarnya ke Metro, Buya masih memilih tinggal di Liwa. Dia baru menyusul ke Metro pada akhir tahun 1944. Waktu itu Buya langsung disambut oleh tokoh setempat karena di sana masih jarang ada orang yang berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, sejak Februari 1945 hingga Desember 1948 Buya pun didaulat menjadi Kepala Perguruan Islam menggantikan Ustaz M. Jailani yang mengundurkan diri.

Beberapa tahun menjabat sebagai Kepala Perguruan Islam, pada tanggal 1 September 1945 Buya mengabdikan diri kepada negara menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan menjadi guru agama di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) 1 dan 2 Metro. Satu tahun kemudian, dia diangkat oleh Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) menjadi pemeriksa pelajaran agama pada sekolah-sekolah pemerintah di Metro, lalu juga menjadi sekretaris Masyumi, dan Ketua Lasykar Huzbullah/Sabilillah cabang Metro. Selanjutnya, tahun 1946 menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Metro. Sederet aktivitas inilah yang akhirnya membuat Buya aktif pada jalur pendidikan, politik, dan bahkan militer di daerah Lampung.

Saat Belanda mendarat di Pelabuhan Panjang pada tanggal 1 Januari 1949 misalnya, Buya dan para pemuda turun ke desa-desa memberi penjelasan ihwal perjuangan mempertahankan kemerdekaan dana mengobarkan semangat anti-penjajahan kepada masyarakat Lampung. Pengobaran semangat anti-penjajahan pada masyarakat Lampung ini merupakan hasil dari rapat kilat yang diadakan di kantor PU Metro dengan tujuan untuk mengantisipasi kedatangan kembali bangsa Belanda.

Sebelas bulan kemudian, tepatnya Desember 1949 Buya bersama Makmun Nawawi diutus menghadiri Kongres Masyumi dan Badan Kongres Muslim Indonesia (BKMI) di Yogyakarta. Oleh karena waktu itu Belanda masih menduduki beberapa wilayah penting di Indonesia, maka mereka harus membawa machteging atau surat kuasa jalan selaku delegasi RI untuk perdamaian dengan Belanda dari Residen Lampung Mr. Gele Harun. Sesampai di Yogyakarta mereka tidak hanya dapat menghadiri Kongres Masyumi, tetapi juga sempat menyaksikan pelantikan Ir. Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat di Sitihinggil Keraton Yogyakarta, pidato kedua negara (RIS dan Belanda), serta penurunan bendera Belanda dan penaikan Sang Saka Merah Putih (Wardoyo, dkk: 2008).

Sepulang dari Yogyakarta, sekitar bulan Januari 1950 Buya diangkat menjadi Kepala Sekretariat KUA Lampung Tengah di Metro. Selain itu dia juga mendapat tugas dari Kepala Djawatan Agama Lampung, K.H. A.Razak Arsyad untuk membantu menyusun dan mengisi formasi pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) mulai tingkat kabupaten hingga kecamatan di seluruh Lampung Tengah. Dan, pada tahun ini pula Buya terpikat oleh seorang gadis bernama Mas Amah yang merupakan sesama aktivis di GPII. Mereka pun akhirnya menikah pada 26 Agustus 1950 dan dikaruniai delapan orang anak, yaitu: Hilyati, Istamar Arief, Erna Pilih, Prisrita Rita, Edy Irawan Arief, Neli Aida, Septi Aprilia, dan Andi Arief.

Pada pertengahan tahun 1952 hingga 1956 Buya sempat nonaktif menjadi Pegawai Negeri Sipil karena terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) wilayah Lampung Tengah. Setelah tidak menjabat sebagai anggota Dewan, Buya kembali lagi menjadi Pegawai Negeri dan menjabat sebagai Kepala Staf Penerangan Agama pada KUA Ogan Komering Ulu. Setelah Lampung menjadi sebuah provinsi tahun 1964, Buya dimutasikan menjadi Kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Lampung di Telukbetung. Satu tahun kemudian masuk dalam Tim Screening PNS dengan tugas menyelidiki seluruh PNS yang ada di Provinsi Lampung yang diduga terlibat dalam Gerakan 30 September atau Partai Komunis Indonesia.

Selesai menjalankan tugas sebagai Tim Screening PNS, tahun 1966 Buya beralih menjadi Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Islam (Yaperti) Lampung yang kini menjadi Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung. Tiga tahun sesudahnya dia diangkat menjadi Kepala Jawatan Penerangan Agama Provinsi Lampung hingga tahun 1973 dan tahun 1975 Buya menjadi pengurus sekaligus penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung.

Satu tahun menjelang pensiun sebagai PNS, Buya menunaikan ibadah Haji. Setelah pensiun, Buya tetap aktif dalam dunia pendidikan, dakwah, dan politik. Hari-harinya selalu diisi dengan memberi pelajaran mengaji pada anak-anak di sekitar rumahnya. Dedikasinya terhadap dunia dahwah pun semakin meningkat dengan rutin mengisi ceramah agama untuk menyebarluaskan syiar Islam, meningkatkan kualitas keimanan masyarakat Lampung, dan memperkokoh nilai-nilai sosial-budaya masyarakat dengan rumusan amar makruf nahi mungkar; mengadakan aksi sosial bersama PWNU Lampung; mengisi kuliah subuh di RRI Tanjungkarang; menjadi wakil ketua Pengurus Masjid Al Furqon; pengurus Forum Komunikasi Umat Beragama bentukan Gubernur Lampung; dan menulis berbagai artikel keislaman di media massa lokal.

Sumber:
"M. Arief Mahya: Warga NU Selalu Enggan Mengawal Hasil Konferensi", diaksesd dari http://nu-lampung.or.id/blog/m-arief-mahya-warga-nu-selalu-enggan-mengawal-hasil-konferensi.html, tanggal 2 Agustus 2016. (Foto)

"K.H.M. Arief Mahya (1926-...): Jejak Langkah Kiai Pejuang", diakses dari http:// paratokohlampung.blogspot.co.id/2008/11/kh-m-arief-mahya-1926-jejak-langkah.html, tanggal 24 Juli 2016.

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 63-67.

Ngarambet

Ngarambet adalah istilah orang Sunda untuk kegiatan pembersihan rerumputan yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi dengan cara menenggelamkannya ke dalam tanah agar busuk dan menjadi pupuk. Tahap ngarambet (menyiangi) dilakukan dua kali, yaitu pada saat umur padi 15-20 hari ke arah panjang lahan dan 35-40 hari ke arah lebar lahan. Sedangkan Pelaksanaan pekerjaannya dapat dilakukan juga dengan dua cara. Cara pertama, cukup dengan tangan tanpa bantuan alat, segala tanaman yang mengganggu dicabut kemudian ditenggelamkan ke dalam tanah. Cara kedua, menggunakan alat yang disebut gasrok.

Pemeliharaan tanaman padi dengan cara membersihan tanaman pengganggu tidak hanya dilakukan di sela-sela tanaman padi, tetapi juga pada tepian galengan atau pematang. Pembersihan rerumputan di tepian galengan ini bukan dinamakan ngarambet tetapi namping atau nyacar galeng atau ngabutik. Alat yang dipergunakan pun bukan gasrok melainkan parang atau arit dan dilakukan oleh petani laki-laki. (gufron)

Gasrok

Gasrok adalah sebutan orang Sunda pada sebuah alat yang digunakan untuk ngarambet atau membersihkan rerumputan yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Gasrok terdiri atas dua macam bentuk. Bentuk pertama berupa bantalan kayu yang bagian bawahnya dipasangi paku-paku bengkok berderet hingga memenuhi permukaannya. Sebagai pegangannya, bantalan kayu ini diberi tangkai mencuat ke atas dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Rerumputan yang tergasrok akan terkait oleh paku-paku yang ada di bawah bantalan. Sedangkan bentuk gasrok lainnya berupa kotak kayu persegi enam yang diberi as (sumbu roda) sehingga dapat berputar. Setiap segi dari kotak kayu tersebut diberi cucuk besi yang akan berdiri bila sedang dipergunakan (seperti bulu binatang landak), sehingga rumput-rumput liar akan terkait olehnya. Adapun cara menggunakan kedua jenis gasrok itu adalah dengan mendorongnya mengikuti gang atau celah-celah antartanaman. (gufron)

Gakik

Gakik adalah istilah orang Lampung untuk menyebut sebuah alat transportasi sungai yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai rakit. Gakik dibuat dari batang-batang bambu atau kayu-kayu bulat yang disusun dan dirangkaikan sedemikian rupa dengan tali rotan hingga dapat mengapung di sungai. Adapun cara menjalankannya biasanya dilakukan oleh beberapa orang menggunakan cawang, yaitu kayu atau bambu yang ditekankan pada dasar sungai.

Sap Dudung

Sap dudung adalah sebuah tempat menyimpan berbagai macam benda ringan. Oleh kaum perempuan sukubangsa Lampung, sap dudung umumnya digunakan sebagai tempat menyimpan bahan jahitan atau pakaian. Sap dudung dibuat dari anyaman rotan halus yang diperindah, memakai pegangan agar mudah diangkat dan dibawa. Pada tepi bagian tutupnya dipergunakan bilah rotan sebagai pengunci.

Zulkarnain Zubairi

Zulkarnain Zubairi atau lebih dikenal dengan nama Udo Z Karzi adalah salah seorang jurnalis, sastrawan, dan sekaligus budayawan muda asal Lampung. Zubairi lahir pada tanggal 12 Juni 1970 di Desa Negarabatin, Magra Liwa, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Ayahnya bernama Zubairi Hakim dan ibunya Tria Qoti. Zubairi adalah putera sulung dari lima bersaudara Riza Sofya, Yuzirwan, Silvia Diana, dan Lila Aftika (arahlautlepas.blogspot.co.id).

Zubairi menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri 1 Liwa pada tahun 1977-1983. Kemudian ke SMP Negeri 1 Liwa pada tahun 1983-1986. Lulus dari SMPN 1 Liwa, tahun 1986 Udo hijrah ke Bandarlampung untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Tanjungkarang. Setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya pada tahun 1989 Zubairi mengambil program D2 Akuntansi di Lembaga Pendidikan Fajar Agung. Usai mendapat ijazah D2 akuntasi, Zubairi mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung dari tahun 1990 hingga memperoleh gelar kesarjanaannya pada tahun 1996 (Wardoyo, dkk: 2008).

Semasa kecil pria yang menikah dengan Reni Permatasari dan dikaruniai dua orang anak (Muhammad Aidil Affandy Liwa dan Raihan Gerza Muzakki Liwa) ini sudah gemar membaca. Dia selalu membaca apa saja (buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya). Bahkan, buku-buku Inpres yang kerap dibawa oleh ayahnya yang seorang guru Bahasa Indonesia juga tidak luput dari perhatiannya. Dia juga banyak membaca buku-buku milik sahabatnya bernama ZA Mathika Dewa atau Zulkifli, anak seorang Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan (arahlautlepas.blogspot.co.id). Kegemaran membaca ini, khususnya buku-buku sastra dan biografi sastrawan-sastrawan ternama membentuk pola pikir Zubairi sehingga terbiasa menuangkan segala sesuatu dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia menyenangi pelajaran mengarang dan bercita-cita menjadi penulis sastra atau sastrawan.

Ketika masih duduk di bangku SMA, seiring dengan hobi membacanya yang semakin meluas, Zubairi juga mengembangkan hobi baru yaitu mengkliping puisi, cerpen, esai, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengannya. Selain itu, Zubairi juga mencoba menulis untuk disebarluaskan melalui media massa. Pada sekitar tahun 1987 tulisannya yang pertama dimuat di media massa berbentuk sebuah puisi. Selanjutnya, sejumlah karya pun mulai mengalir, baik berupa puisi, cerita pendek, cerita anak, artikel, maupun esai.

Saat menjadi mahasiswa Zubairi berkiprah sebagai Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila hingga tahun 1994, 1994-1996 menjadi Pemimpin Umum Majalah Republica FISIP Unila, dan pemimpin Majalah Ijtihad hingga tahun 1998. Lulus dari perguruan tinggi Zubairi mengawali karirnya sebagai wartawan lepas harian umum Lampung Post (1995-1996). Kemudian tahun 1997 menjadi reporter majalah berita Mingguan Sinar di Jakarta. Tahun berikutnya Zubairi kembali ke kampung halamannya di Liwa dan beralih profesi menjadi guru ekonomi dan akuntansi pada SMAN 1 Liwa dan MAN Liwa. Tahun 1999-2000 dia kembali menggeluti bidang persuratkabaran dengan menjadi redaktur Sumatera Post. Selanjutnya, dari tahun 2000-2006 kembali bekerja sebagai jurnalis di Lampung Post. Dan terakhir, dari tahun 2006 menjadi redaktur Borneonews di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai jurnalis, Zubairi tetap menyempatkan diri menulis karya sastra. Walau bertolak belakang dengan dunia jurnalistik yang lebih mengedepankan fakta dalam bentuk tulisan yang sangat cair dan jelas, dia masih dapat membuat karya sastra yang mengandung nilai-nilai kejujuran, kearifan, kebenaran, keterbukaan, kebebasan, keadilan, dan demokrasi. Menurut arahlautlepas.blogspot.co.id, karya sastra Zubairi memiliki tiga esensi penting yaitu: memuat kisah/gagasan yang baru atau asli; keteraturan memakai kaidah tata bahasa, kosa kata, dan ejaan; dan pemaparan atau sistematika dalam penceritaan.

Adapun karya-karya Zulkarnai Zubairi, diantaranya adalah: Momentum1 (kumpulan sajak dwibahasa Lampung-Indonesia, Dinas Pendidikan Lampung 2002); Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual (editor, 2002); Mak Dawah Mak Dibing (kumpulan sajak, BE Press 2007); Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa (editor bersama Budisantoso Budiman, 2010); Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh2 (Indepth Publishing, 2012); Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (Indepth Publishing, 2013); Tumi Mit Kota3 (kumpulan cerpen berbahasa lampung bersama Elly Dharmawanti, Pustaka LaBRAK 2013); Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis ihwal Literasi dan Proses Kreatif dengan Sedikit Tips (Sai Wawai Publishing, 2014) (udozkarzi.blogspot.co.id); puisi "Damba" dalam buku Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh (Surat Kabar Teknokra 1999); puisi "Bebas" dalam buku Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh (Surat Kabar Teknokra 1999); puisi "Jalan yang Terbentang" dalam buku Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh (Surat Kabar Teknokra 1999); puisi "Di Masjid" dalam buku Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh (Surat Kabar Teknokra 1999); puisi "Lampung Kenangan" dalam Krakatau Award 2002 (terbitan Dewan Kesenian Lampung, 2002); Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2003); Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation, 2004); Maha Duka Aceh (PDS H.B. Jassin, 2005); cerpen "harga diri" dalam surat kabar Teknokra (2000); cerpen "Tumi Pergi ke Kota" dalam Trans Sumatera (2000); esai "Begitulah Cinta" dalam, Etos Kita: Moralitas Kaum Intelektual (2003); esai "Tradisi Lisan Lampung yang Terlupakan" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Hujan Sastra (sastrawan) Lampung Memang Tidak Merata" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Sastra (Berbahasa) Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Tradisi Dipuja, Tradisi Diguga" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Sastra Modern (Berbahasa) Lampung" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Suatu Senja Sebuah Pekon Sedendang Dadi" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Anak-anak Muda Semakin Jauh dari Tradisi" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Sastra Lisan Dadi" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Nggak Gaul Kalau Nggak bisa Nyara" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005); "Kecintaan pada Seni Tradisi Terpupuk sejak Lama" dalam Kebangkitan Sastra Lampung (2005) (arahlautlepas.blogspot.co.id); Mengapa Kita Berkonflik (editor bersama HS Tisnanta, 2014); Dari Oedin ke Ridho, Kado 100 Hari Pemerintahan M. Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (editor, 2014) (selasar.com); Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006); dan Anthology Empathy (Pustaka Jamil, 2006) (horisononline.or.id).

Berkat karya-karyanya tersebut Zubairi mendapat sejumlah penghargaan, diantaranya: (1) Juara kedua Lomba Menulis Puisi Naratif Festival Krakatau IX tahun 1999 atas puisi yang berjudul Bagaimana Mungkin Aku Lupa; (2) Juara pertama lomba resensi buku The Secret of Biography: Rahasia Menulis Biografi ala Ramadhan K.H.; (3) Hadiah Sastra Rancage 2008 untuk kategori Sastra Lampung melalui Mak Dawah Mak Dibingi (2007); dan (4) Kamaroeddin Award 2014 yang diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen Bandarlampung.

Pada lomba resensi buku The Secret of Biography yang diadakan oleh Lembaga Studi Biografi Ramadhan K.H. Institute, Zubairi membuat resensi yang diterbitkan di Lampung Post dengan judul Kiat Heboh Bikin Biografi Gaya Ramadhan K.H. Dia berhasil mengalahkan peresensi lainnya yaitu Wahyu Awaludin yang membuat resensi berjudul Ramadhan K.H. Hidup Kembali yang dimuat di wartakotalive.com (posisi kedua) dan Putri Nurbaiti dengan judul resensi Menyibak Kesuksesan Sang Biografi dalam Menulis Biograsi yang dimuat di pelitaonline.com (posisi ketiga) (Lampung Post 2012).

Sementara Kamaroeddin Award diberikan kepada Zubairi atas sumbangsihnya dalam mengangkat budaya Lampung, khususnya bahasa dan sastra Lampung yang terancam punah, agar tetap lestari, berkembang, dikenal publik, dan eksis sampai saat ini (antaranews.com). Melalui karya tulisnya, baik dalam bentuk puisi, cerita buntak (cerita pendek), dan esai di berbagai media massa lokal dan nasional sejak 1987 tim juri Aliansi Jurnalis Independen Bandarlampung yang terdiri Fadilasari, Budisantoso Budiman, dan Tisnanta, menilai Zibairi telah berkontribusi besar dalam perkembangan pers dan jurnalistik maupun HAM dan demokratisasi di Lampung. Dia berhasil mengalahkan empat nominator peraih Kamaroeddin Award yang dinilai berperan aktif dan memberikan kontribusi terhadap kemerdekaan dan profesionalisme pers, penegakan hukum dan hak asasi manusia, serta demokrasi di Lampung, yaitu Siti Noor Laila (Komisioner Komnas HAM asal Lampung), Iswandi Pratama (seniman teater asal Lampung yang mendunia), Uki M. Kurdi (mantan Pemred Harian Umum Tribun Lampung), dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung.

Sedangkan Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Zubairi karena dianggap sebagai pelopor lahirnya sastra berbahasa Lampung modern. Walau selama ini sudah cukup banyak sastrawan modern asal Lampung. Tetapi mereka umumnya menuliskan karya sastranya dalam bahasa Indonesia dan belum ada yang menggunakan bahasa Lampung sebagai wahananya. Melalui buku kumpulan 50 sajak yang diberi judul Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam) Zubairi membuat terobosan besar yang mendobrak kebekuan dunia sastra berbahasa Lampung (Anshory, 2008).

Dalam Mak Dawah Mak Dibingi Zubairi dapat membebaskan diri dari struktur sastra tradisional lampung yang sangat terkait dengan aturan bait dan rima yang ketat. Selain itu, setiap sajaknya juga menceritakan hal-hal yang bersifat kontemporer, seperti: kehidupan rakyat kecil yang terpuruk, demonstrasi mahasiswa, pencemaran lingkungan, sempitnya lapangan kerja, penegakan hukum yang belum memuaskan, korupsi yang merajalela, dan para politisi yang tidak memikirkan rakyat (Anshory, 2008). (Gufron)
______________________________________________
1 Momentum dianggap sebagai pembawa pembaruan dalam tradisi perpuisian berbahasa lampung (putika.net). Dalam antologi ini terdapat 25 buah puisi setebal 50 halaman yang ditulis dalam bahasa Lampung dialek Pesisir (Api) disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Adapun isi puisinya sebagian merupakan refleksi dari perjalanan kehidupan Zubairi dan sebagian lainnya merupakan kejadian atau hal yang menyentuh emosi dan perasaannya.

Menurut Kuswinarto (2003), ada beberapa alasan mengapa kehadiran antologi Momentum layak dicatat dalam khazanah sastra Lampung. Pertama, hadirnya Momentum membuktikan bahwa sastrawan Lampung masih ada. Kedua, kehadiran Momentum memperlihatkan kerja sama yang baik dari berbagai pihak di Provinsi Lampung untuk memajukan sastra daerah. Dan ketiga, antologi Momentum ini sangat penting dalam kerangka perjalanan sastra berbahasa Lampung yang hidup segan mati tak mau.

2 Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh berisi 101 buah kumpulan karangan berupa kolom (column) yang ditulis Udo Z. Karzi selama kurun waktu tiga tahun (2002-2004), dengan rincian 24 judul (2002), 33 judul (2003), dan 34 judul (2004). Seluruh tulisan tersebut diterbitkan dalam rubrik "Nuansa" di harian Lampung Post. Adapun isinya menurut Iwan Nudaya-Djafar (2012), berupa celotehan Udo yang kritis dan analitis terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang terjadi di sekeliling tokoh Mamak Kenut, Minan Tunja, Pithagiras, Radin Mak Iwoh, Paman Takur, Udien, dan nama-nama lain dari negeri ini yang sering menghiasi pemberitaan media massa atau orang biasa yang melintas dalam kehidupan senyatanya.

3 Tumi Mit Kota merupakan kumpulan 13 buah cerpen berbahasa Lampung karya Udo Z Karzi dan Elly Dharmawanti yang diterbitkan oleh Pustaka Labrak, Bandarlampung. Menurut Udo yang dilansir antaralampung.com, ada beberapa alasan mengapa ia memilih judul Tumi Mit Kota yang juga merupakan salah satu judul dari 13 cerpen yang ada di dalamnya. Pertama, adalah sebagai penggambaran kondisi kontemporer masyarakat Lampung terkait dengan orientasi hidup, pergeseran tatanan sosiobudaya, dan kecenderungan urbanisasi di antara warga Lampung. Kedua, adanya proses inkulturasi dalam diri Tumi (Tuminingsih) yang beretnis Jawa tetapi sudah menjadi gadis Lampung. Ketiga, kata Tumi bukan hanya panggilan bagi Tuminingsih, tetapi juga Buay Tumi, nenek moyang orang Lampung. Dan keempat, kisah-kisah di dalamnya membaurkan suasana laut dan pegunungan di daerah Lampung Barat dan Pesisir Barat, sesekali kondisi kehidupan urban, dan ketegangan antara masa lalu dan kekinian.

Foto: http://detik-world.blogspot.co.id/2013/06/biografi-udo-z-karzi.html
Sumber:
"Zulkarnain Zubairi", diakses dari 1. http://arahlautlepas.blogspot.co.id/2008/11/zulkarnain-zubairi.html, tanggal 2 Juni 2016.

"Udo Z Karzi", diakses dari http://udozkarzi.blogspot.co.id/, tanggal 2 Juni 2016

"Udo Z Karsi Memuliakan Bahasa Lampung dengan Puisi", diakses dari http://horison online.or.id/rampai-rampai/udo-z-karsi-memuliakan-bahasa-lampung-dengan-puisi, tanggal 2 Juni 2016.

Kuswinarto. 2003. "Udo Z. Karzi dalam Peta Puisis (Berbahasa) Lampung", diakses dari http://kotakalianda.blogspot.co.id/2014/11/udo-z-karzi-dalam-peta-puisi-berbahasa.html, tanggal 2 Juni 2016

Irfan Anshory. 2008. "Hadiah Rancage untuk Sastra Lampung", diakses dari http://irfan anshory.blogspot.co.id/2008/02/hadiah-rancage-untuk-sastra-lampung.html, tanggal 7 Juni 2016.

"Buku Cerpen Berbahasa Lampung Diluncurkan", diakses dari http://www.antaralampung. com/berita/271040/buku-cerpen-berbahasa-lampung-diluncurkan, tanggal 7 Juni 2016.

"Udo Z. Karzi", diakses dari https://www.selasar.com/profile/UdozKarzi, tanggal 7 Juni 2016.

Iwan Nurdaya-Djafar. 2012. "Sisindiran ala Udo Z Karzi, diakses dari http://lampung.antara news.com/berita/263611/sisindiran-ala-udo-z-karzi, tanggal 4 Juni 2016.

"Udo Z Karzi", diakses dari http://puitika.net/udo-z-karzi-2/, tanggal 7 Juni 2016.

Wardoyo, Heri, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 392-394

"Udo Z. Karzi Juara I Resensi Nasional", Lampung Post, Kamis 22 November 2012.

"Zulkarnain Zubairi raih Kamaroeddin Award 2014", diakses dari http://www.antaranews. com/berita/452304/zulkarnain-zubairi-raih-kamaroeddin-award-2014, tanggal 8 Juni 2016.

Popular Posts

-