Keong Mas

(Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur)

Alkisah, zaman dahulu kala di Karajaan Daha ada dua orang puteri cantik jelita yang hidup sangat berkecukupan. Mereka bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Semenjang kecil hingga remaja keduanya hidup rukun hingga suatu saat ada seorang pangeran tampan bernama Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Kahuripan yang datang hendak melamar Candra Kirana. Lamaran itu disambut baik Raja Kertamarta, ayah Candra Kirana. Raden Inu Kertapati dan Candra Kirana kemudian bertunangan.

Rupanya Dewi Galuh juga menyimpan hati pada Raden Inu Kertapati yang ketampanannya tiada banding di Kerajaan Daha. Bahkan, dia sampai merasa bahwa yang pantas untuk menjadi isteri Raden Inu Kertapati adalah dirinya dan bukan Candra Kirana. Hal ini membuat Dewi Galuh menjadi iri serta dengki. Untuk itu dia pergi meminta bantuan seorang dukun sihir agar dapat menyingkirkan Candra Kirana. Dia ingin agar si dukun mengubah Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan sehingga Raden Inu tidak mau menjadikannya sebagai isteri. Setelah disepakati jumlah harga yang harus dibayar sebagai maharnya, dukun lalu menyihir Candra Kirana menjadi seekor keong mas.

Sang keong mas kemudian dibuang ke sungai karena dianggap sebagai hama pengganggu tanaman kolam. Berpuluh kilometer dia hanyut hingga tersangkut dalam jaring seorang nenek yang sedang mencari ikan. Sang Nenek tertarik akan keindahan cangkang keong mas itu dan membawanya pulang untuk dipelihara dalam tempayan. Selanjutnya dia kembali ke sungai untuk menangkap ikan lagi. Namun, karena hari itu menjelang senja, Sang Nenek tidak berani menjaring di tengah sungai. Hari itu dia tidak berhasil mendapatkan tangkapan.

Dengan perasaan kecewa dia menggulung serta merapikan peralatan jaringnya sebelum beranjak pulang. Padahal, sejak pagi dia belum makan sama sekali karena tidak mendapatkan seekor ikan pun kecuali seekor keong mas yang walaupun dapat dimakan tetapi tidak akan cukup untuk mengganjal perutnya.

Sesampainya di rumah, Sang Nenek menuju dapur untuk menaruh peralatan jaringnya. Ketika berada di dapur di kaget bukan kepalang melihat begitu banyak makanan lezat telah tersaji lengkap dengan lalapan dan segala tetek bengeknya. Siapa yang mengirimkan makanan layaknya hidangan khas istana ini, pikirnya dalam hati. Namun, karena desakan perut yang tidak dapat dikompromikan, tanpa berpikir panjang dia langsung menyantap makanan tersebut hingga habis.

Anehnya, kejadian serupa berulang hingga beberapa kali. Dia selalu pulang dari sungai dengan tangan kosong, sementara di rumah ada saja makanan mewah yang telah terhidang di meja dapur. Hal ini membuat Sang Nenek penasaran. Siapakah gerangan yang selama ini telah berbaik hati memberikan makanan? Agar tidak penasaran, dia memutuskan untuk menyelidiki apa yang terjadi ketika dia sedang mencari ikan.

Keesokan harinya, seperti biasa dia pergi ke sungai untuk mencari ikan. Namun, ketika sampai di persimpangan jalan menuju sungai, berbalik lagi ke rumahnya. Tiba di pekarangan, dengan mengendap-endap dia menuju belakang rumah untuk mengintip "aktivitas" apa yang sedang terjadi. Dan, alangkah terkejutnya dia melihat di dapur ada seorang gadis cantik sedang menata piring-piring yang penuh dengan makanan lezat.

Sang Nenek memberanikan diri menghampiri dan bertanya, "Siapakah engkau, hai gadis cantik? Mengapa engkau selalu menyiapkan makanan untukku?"

"Namaku Candra Kirana, Nek. Aku berasal dari Kerajaan Daha. Aku telah disihir oleh suruhan Saudaraku yang merasa iri," jawab Candra Kirana sambil mengubah diri kembali menjadi keong mas yang membuat Sang Nenek terheran-heran.

Beralih dari Sang Nenek yang tidak percaya kalau keong yang dipeliharanya bisa berbicara, di lain tempat (istana Kerajaan Daha) rupanya Raden Inu sedang mencari keberadaan calon isterinya. Dia tidak habis pikir mengapa Candra Kirana tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Apakah dia sebenarnya tidak setuju dengan pertunangan mereka? Apakah ada orang lain yang lebih dulu merebut hatinya dan dia pergi bersama orang itu? Ataukah ada orang yang sengaja menculiknya agar pertunangan mereka tidak berlanjut ke pernikahan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang berkecamuk dalam benak Raden Inu sehingga dia memutuskan mencari Candra Kirana ke seluruh pelosok negeri. Agar tidak dikenali oleh rakyat, dia melepas semua atribut kebangsawanannya dan menyamar menjadi orang kebanyakan. Dengan cara demikian, dia dapat leluasa keluar-masuk kampung tanpa menjadi pusat perhatian.

Namun, penyamaran Raden Inu Kertapati diketahui oleh si dukun sihir yang telah mengubah Candra Kirana menjadi keong mas. Merasa takut bila Raden Inu akhirnya mengetahui bahwa "hilangnya" Candra Kirana adalah hasil dari perbuatannya, Si dukun kemudian mengubah dirinya menjadi seekor burung gagak. Adapun tujuannya adalah untuk membuat Raden Inu bingung dalam usaha pencariannya.

Setelah menjadi gagak dia terbang mengikuti kemanapun Raden Inu pergi. Suatu saat ketika Raden Inu sedang beristirahat di dekat sebuah pohon rindang, Sang gagak terbang menghampir dan menawarkan diri untuk mengantarkannya ke tempat Candra Kirana berada. Padahal tujuan Sang Gagak sebenarnya adalah agar Raden Inu tersesat dan tidak pernah menemukan calon isterinya. Tetapi, karena Raden Inu menganggap bahwa Sang Gagak itu sangat sakti (dapat berbicara), maka diturutilah perkataannya.

Tidak berapa lama mengikuti Sang Gagak, Raden Inu bertemu dengan seorang kakek sangat sakti namun secara fisik tampak seolah-olah lemah lunglai layaknya orang yang beberapa hari tidak makan. Merasa iba, Raden Inu lalu memberi Si Kakek sedikit makanan dari bekal yang dibawanya. Saat sedang makan itulah dia melihat ada seekor gagak yang hinggap tidak jauh dari Raden Inu. Sambil makan, tanpa berkata-kata dia langsung melemparkan tongkatnya ke arah gagak itu hingg terkena dan lenyap menjadi asap.

Selesai makan Si Kakek menjelaskan pada Rade Inu bahwa burung gagak tadi adalah jelmaan dukun sihir yang telah mencelakai Candra Kirana. Selanjutnya, dia juga memberitahukan bahwa Candra Kirana berada di Desa Dadapan. Apabila Raden Inu ingin menuju ke sana, menurut Si Kakek dia harus berjalan selama berhari-hari melewati hutan, lembah, dan bukit.

Awalnya Raden Inu Kertapati kurang percaya pada penuturan Sang Kakek sakti tadi. Sebab, sampai saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan Candra Kirana. Bahkan, dukun sihir yang menjelma menjadi burung gagak sebenarnya juga tidak tahu keberadaan Candra Kirana karena dia telah mengubahnya menjadi keong mas dan membuangnya di sungai yang berair deras dan dalam. Tetapi melihat raut wajah Sang Kakek yang tampak seperti orang suci, Raden Inu akhirnya menuruti sarannya.

Selama berhari-hari dia berjalan keluar masuk hutan dan menyusuri lembah-bukit hingga sampai di batas wilayah Desa Dadapan. Di tempat itu dilihatnya ada sebuah gubuk reot yang letaknya jauh terpisah dari rumah-rumah lainnya. Oleh karena didorong rasa lapar, dia mendekati bagian dapur gubuk untuk meminta sedikit makanan. Sesampainya di belakang gubuk dia terkejut bukan kepalang melihat Candra Kirana sedang menata piring-piring yang penuh dengan makanan lezat.

Singkat cerita, Raden Inu menghampiri dan memegang tangan Candra Kirana. Entah kenapa, perjumpaan itu rupanya menghilangkan sihir yang menimpa Candra Kirana sehingga dia tidak berganti ujud lagi menjadi keong mas. Mereka pun akhirnya pulang ke istana dan hidup bahagia sebagai suami-isteri. Sementara Dewi Galuh, melarikan diri ke hutan belantara karena takut akan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Diceritakan kembali oleh gufron

Legenda Rawa Pening

(Cerita Rakyat Jawa Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di suatu lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo ada sebuah desa bernama Ngasem. Di desa ini hidup sepasang suami-isteri bernama Nyai Selakanta dan Ki Hajar. Mereka telah lama berumah tangga, namun belum juga dikaruniai momongan.

Suatu hari, menjelang senja Nyai Selakanta duduk termenung seorang diri di teras rumahnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya, ketika sang suami datang dan menghampiri pun dia tidak menyadarinya.

"Kamu sedang memikirkan apa, Nyai?" tanya Ki Hajar ketika berada di samping isterinya.

"Aku merasa kesepian, Kang," jawab Nyai Selakanta. "Seandainya saja kita dikaruniai anak, hidup pasti akan lebih berwarna. Aku tidak akan merasa kesepian walau kamu tinggal pergi bekerja," lanjutnya.

"Kita sudah mencoba bermacam cara, mungkin belum waktunya. Kalau kamu mengizinkan, aku akan pergi bersemedi memohon petunjuk Yang Maha Kuasa," kata Ki Hajar.

Nyai Selakanta tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk pelan sambil menitikkan air mata sebagai tanda persetujuannya. Dan, tanpa membuang waktu lagi, keesokan harinya Ki Hajar berangkat menuju ke suatu tempat yang dianggap masih sunyi, yaitu di lereng Gunung Telomoyo.

Kepergian Ki Hajar ternyata bukan hanya selama satu atau beberapa minggu saja, melainkan berbulan-bulan sehingga membuat hati Nyai Selakanta menjadi gundah gulana. Dia khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atas keselamatan Sang Suami. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak mengetahui lokasi keberadaan Ki Hajar. Yang dapat dia lakukan hanyalah berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar suaminya dapat segera kembali dengan selamat.

Alih-alih mendapatkan suaminya kembali, Nyai Selakanta malah mulai merasakan perubahan di dalam dirinya. Tiap pagi dia merasa mual dan muntah-muntah layaknya orang yang sedang hamil. Hal ini diikuti dengan semakin membesarnya perut hingga sembilan bulan setelahnya keluarlah bayi dari dalam rahimnya. Anehnya, Sang bayi bukanlah berwujud anak manusia, melainkan seekor naga.

Walau sangat terkejut, Nyai Selakanta juga bahagia karena dikaruniai momongan. Bayi naga itu dinamainya Baru Klinthing, sesuai dengan nama tombak milik suaminya yang ditinggalkan sebagai "penjaga rumah". Kata Baru Klinthing berasal dari "bra" yang berarti Brahmana dan "klinthing" yang berarti lonceng. Jadi Baru Klinthing dapat diartikan sebagai lonceng Sang Brahmana.

Oleh karena Baru Klinthing tergolong sebagai "bayi ajaib", begitu lahir dia langsung dapat berbicara layaknya manusia. Hal ini membuat suasana hati Nyai Selakanta bercampur-aduk (bahagia, haru, malu, sekaligus juga kecewa). Dia bahagia dan terharu dapat memiliki momongan sebagaimana layaknya keluarga lain. Tetapi di sisi lain dia juga kecewa sekaligus malu memiliki "bayi ajaib" yang penampilan fisiknya sangat berbeda dari orang kebanyakan.

Belasan tahun kemudian, setelah Baru Klinthing tumbuh remaja, dia bertanya kepada ibunya, "Bu, mengapa kita hanya hidup berdua? Apakah aku tidak memiliki ayah?"

"A..a..ayahmu?" jawab Nyai Selakanta tergagap. "Ayahmu bernama Ki Hajar, Anakku. Dia sedang bertapa di suatu tempat sekitar lereng Gunung Telomoyo," lanjutnya setelah dapat menguasai diri.

"Apakah aku boleh menemuinya, Bu?" tanya Baru Klinthing.

"Tentu saja boleh, Anakku. Tapi kamu harus membawa tombak pusaka milik ayahmu sebagai bukti bahwa kamu adalah anaknya," jawab Nyai Selakanta.

Setelah mempersiapkan segala perbekalan termasuk tombak pusaka, Baru Klinthing meminta izin pada Nyai Selakanta untuk mencari Sang Ayah. Setibanya di sekitar Gunung Telomoyo dia melihat sebuah goa besar yang bagian dalamnya sangat gelap dan menyeramkan. Karena beranggapan bahwa tempat itu sangat cocok sebagai pertapaan, dia pun segera memasukinya.

Sesampai di dalam goa Baru Klinthing mendapati seorang lelaki tua yang sedang bersemedi sambil duduk bersila. "Maaf bila mengganggu, apakah Bapak Ki Hajar?" tanya Baru Klinthing setelah berada di dekatnya.

Sang lelaki tua yang tengah khusuk bersemedi itu agak terkejut hingga membuka matanya. Dia lebih terkejut lagi ketika yang dilihatnya bukanlah manusia melainkan seekor naga yang menyeramkan. "Aku Ki Hajar. Siapa kamu?" tanya Ki Hajar dengan suara keras karena merasa terganggu.

"Saya Baru Klinthing, anakmu. Sebagai buktinya, saya dibekali oleh ibu untuk membawa tombak ini," jawab Baru Klinting sambil menghantarkan tombak dan bersujud di kaki Ki Hajar.

"Ini memang tombak pusakaku," kata Ki Hajar. "Tapi aku belum yakin kalau kamu adalah anakku. Bukti ini belum cukup. Melihat bentuk tubuhmu yang tidak seperti diriku, aku ingin kamu melingkarkan tubuhmu itu ke gunung ini. Apabila berhasil, kamu akan kuaku sebagai anak," lanjutnya.

Oleh karena Baru Klinthing adalah "anak ajaib", maka persyaratan yang diberikan oleh Ki Hajar bukanlah hal yang mustahil baginya. Dengan sangat mudah dia dapat melingkarkan tubuhnya pada Gunung Telomoyo. Ki Hajar akhirnya mengakui Baru Klinthing sebagai anak. Selanjutnya, dia memerintahkan Baru Klinthing untuk bertapa di suatu tempat di Bukit Tugur agar beralih ujud menjadi manusia normal.

Saat Baru Klinthing menjalankan perintah Sang Ayah, di lain tempat di sebuah dusun bernama Pathok penduduknya hendak mengadakan merti dusun selepas panen raya. Kehidupan penduduk Pathok relatif makmur, sehingga banyak diantaranya yang menjadi over acting dan angkuh. Untuk prosesi merti dusun yang sebenarnya sebagai ungkapan rasa syukur setelah panen misalnya, akan mereka adakan dengan sangat mewah demi membuat para undangan dari desa lain di sekitarnya terkesan.

Untuk menyediakan berbagai hidangan lezat bagi tamu tersebut, selain hasil panen juga dari hutan di sekitarnya, terutama kebutuhan akan daging. Mereka beramai-ramai berburu hewan di hutan-hutan sekitar Dusun Pathok, termasuk hutan di Bukit Tugur. Sesampai di Bukit Tugur mereka bertemu dengan Baru Klinthing yang sedang bersemedi. Tanpa perpikir panjang mereka langsung membunuh Baru Klinthing yang masih berujud naga dan memotong-motong dagingnya untuk dijadikan hidangan dalam merti dusun.

Beberapa hari kemudian ketika diadakan merti dusun yang dihadiri oleh segenap warga masyarakat dari Dusun Pathok dan dusun-dusun lain di sekitarnya, datanglah seorang laki-laki muda dengan sekujur tubuh penuh luka dan menimbulkan bau amis. Lelaki muda itu tidak lain adalah Baru Klinthing. Sewaktu tubuhnya yang masih berupa seekor naga dipotong-potong, ternyata sukmanya masih tetap ada dan beralih ujud menjadi seorang manusia.

Baru Klinthing berusaha ingin bergabung dengan orang-orang yang sedang melakukan prosesi merti dusun tersebut. Tujuannya adalah ingin mendapatkan barang sesuap nasi karena sudah berhar-hari tidak makan. Namun sambutan yang didapatnya hanyalah berupa caci-maki, umpatan, cemoohan, hardikan, dan bahkan pengusiran. Semua orang yang dihampirinya selalu menutup hidung karena bau amis menyengat dari kulitnya yang penuh luka.

Tidak tahan dengan segala "sambutan hangat" itu, Baru Klinthing memilih meninggalkan Dusun Pathok, walau perutnya sangat lapar selepas bersemedi berhari-hari. Sesampainya di perbatasan dusun dia bertemu seorang janda tua bernama Nyi Latung. Oleh Nyi Latung yang ternyata baik hati, Baru Klinthing malah diajak kerumahnya untuk diberi makan. Ternyata Sang janda tua tadi juga senasib dengan Baru Klinthing. Dia tidak diundang dalam acara merti dusun karena dianggap terlalu miskin dan berpenampilan sangat buruk.

Mendengar penuturan Nyi Latung yang tidak boleh ikut merti dusun, Baru Klinthing yang tadinya menganggap sepele terhadap pengusiran dirinya menjadi sangat murka. Selesai makan, dia bermaksud kembali lagi ke acara keramaian tadi. Sebelum berangkat dia sempat berpesan pada Nyi Latung agar menyiapkan lesung apabila nanti mendengar suara air bergemuruh dari tengah dusun.

Setibanya di keramaian, Baru Klinthing langsung menancapkan sebatang lidi di tengah-tengah kerumunan massa. Sambil berteriak dia menantang warga untuk mencabut lidi yang telah ditancapkannya. Agar cepat menyulut emosi warga, Baru Klinthing mengejek dan merendahkan mereka dengan kata-kata yang tidak enak didengar.

Walhasil, warga pun marah. Mereka menyuruh anak-anak kecil untuk mencabutnya karena dianggap remah. Bila berhasil, rencana berikutnya adalah menghajar si pengejek hingga babak belur. Namun usaha anak-anak mencabut lidi ternyata tidak berhasil. Lidi itu bahkan semakin kuat menancap di tanah. Selanjutnya, satu-persatu warga pun mencoba untuk mencabutnya. Dan, karena tetap tidak berhasil mereka akhirnya beramai-ramai mencoba mencabutnya tetapi tetap tidak berhasil.

"Apa kataku, kalian memang benar-benar payah, kan?" kata Baru Klinthing sambil berjalan menghampiri tancapan lidi.

Selanjutnya, dicabutlah lidi itu sehingga mengeluarkan air. Ketika orang-orang tertegun dan heran melihat ada aliran air yang keluar dari lubang bekas tancapan lidi, secara diam-diam dia pergi meninggalkan keramaian menuju rumah Nyi Latung. Sesampai di rumah, bersama Nyi Latung dia menaiki lesung yang difungsikan sebagai perahu karena air semakin lama makin deras sehingga menenggelamkan seluruh desa beserta isinya. Dan, desa itu akhirnya menjadi sebuah danau yang diberi nama Rawa Pening. Untuk menjaga agar tetap menjadi danau, Baru Klinthing meubah lagi dirinya menjadi naga dan berdiam di suatu tempat di tengah danau yang luasnya sekitar 2.670 hektar. Letak Rawa Pening saat ini berada antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Tepatnya di Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Diceritakan kembali oleh gufron

Si Tanduk Panjang

(Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara)

Alkisah, ada sebuah keluarga miskin yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak berjenis kelamin perempuan. Mereka sayang kepada anaknya, walaupun sebenarnya kecewa karena yang diharapkan adalah seorang anak laki-laki. Oleh karenanya, setiap malam mereka selalu bermohon kepada Tuhan agar dikaruniai bayi laki-laki sebagai penyambung keturunan.

Suatu saat, Tuhan mengambulkan permohonan mereka. Lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, dibalik kegembiraan karena ada penerus keturunan, mereka juga kecewa dan bahkan malu. Bayi itu ternyata memiliki "kelebihan" dibandingkan dengan bayi-bayi kebanyakan orang. Dia memiliki tanduk layaknya kambing, kerbau atau sapi jantan.

Agar tidak diejek dan dicemooh oleh para kerabat maupun orang-orang sedesanya, suami-isteri itu sepakat untuk membuang sang bayi laki-laki yang baru dilahirkan. Adapun caranya adalah dengan menghanyutkannya di sungai. Sebelum dihanyutkan, Sang bayi ditempatkan dalam sebuah peti agar tidak tenggalam. Dia juga dibekali sebutir telur ayam serta secangkir beras.

Tak dinyana, anak perempuan pasangan suami-isteri itu sangat sayang pada adiknya. Secara diam-diam dia membuntuti kedua orang tuanya ke sungai dan mengikuti Sang adik yang dihanyutkan di sungai. Beberapa kilometer setelah dihanyutkan, terdengarlah suara tangis Sang Adik dari dalam peti. Si Kakak segera bernyanyi menghibur agar dia tenang kembali.

Begitu seterusnya hingga berbulan-bulan kemudian peti terdorong arus dan terdampar di tepian. Ketika menyentuh tanah, dari dalam peti melompatlah seorang anak laki-laki tampan dan gagah yang di kepalanya memiliki tanduk panjang. Sejurus setelahnya melompat pula seekor ayam jantan yang merupakan tetasan telur bekal hidup si anak bertanduk panjang tadi. Rupanya, mereka dapat bertahan hidup hanya dengan secangkir beras yang dibekali oleh orang tua si anak.

Si anak bertanduk panjang segera menghampiri kakak yang selama ini hanya terdengar suara nyanyiannya saja. Setelah berpelukan, bersama sang ayam jantan mereka berjalan menuju desa terdekat. Tiba di gerbang mereka dihadang oleh penduduk agar tidak masuk ke desa. Ada sebuah aturan yang mengharuskan orang asing mengadu ayam terlebih dahulu agar bisa masuk ke desa. Apabila bersedia dan berhasil memenangkan pertandingan, maka baru diperkenankan masuk sekaligus mendapat harta benda yang banyak. Sebaliknya, apabila kalah harus menjadi budak bagi seluruh warga desa.

Persyaratan berat itu tentu saja ditolak oleh Sang Kakak. Baginya, lebih baik pergi ke lain tempat daripada harus mengadu ayam yang kemungkinan besar akan kalah dan menjadi budak. Tapi berbeda dengan Sang Kakak, Si anak bertanduk panjang malah menyanggupinya. Dia pun kemudian membawa ayam jantannya ke lapangan di luar desa untuk ditandingkan dengan ayam jantan milik warga desa yang tidak pernah kalah dalam bertanding. Ternyata ayam jantan milik Si anak bertanduk panjang dapat memenangkan pertandingan hanya dalam beberapa kali gerakan. Dan sebagai konsekuensinya, dia beserta Sang Kakak boleh memasuki desa serta mendapat sejumlah harta.

Selesai beramah-tamah dengan penduduk mereka melanjutkan perjalanan. Anehnya, di setiap desa yang akan mereka singgahi selalu saja ada peraturan sabung ayam. Walhasil, mereka menjadi kaya raya karena ayam jantannya selalu menang di mana pun dia disabungkan. Tidak ada lagi orang yang meremehkan penampilan fisik Si Tanduk Panjang karena tertutup oleh kehebatan dalam menyabung ayam dan kekayaan yang diperolehnya.

Kehebatan serta kekayaan Si Tanduk Panjang akhirnya tersebar ke seluruh negeri, tidak terkecuali di desa tempat orang tuanya tinggal. Oleh karena itu, ketika perjalanan sampai di sana, kedua orang tua kandung Si Tanduk Panjang dan Kakaknya segera menyambut dengan sukacita. Namun setelah berhadapan muka keduanya tidak mau mengakui. Alasannya, sewaktu mereka memerlukan kasih sayang serta perlindungan, justru malah dibuang karena merasa malu memiliki anak bertanduk layaknya binatang.

Mendengar alasan Si Tanduk Panjang dan Sang Kakak yang tidak mau mengakui, kedua orang tuanya tidak lantas marah. Mereka malah sangat menyesal karena memang telah menelantarkan anak-anaknya. Mereka lalu pulang lagi ke rumah dan beberapa bulan kemudian meninggal dalam waktu yang tidak terpaut lama.

Diceritakan kembali oleh gufron

Lesung

Bercocok tanam adalah teknologi untuk menggarap tanah sampai menghasilkan panen tanaman untuk keperluan hidup (Koentjaraningrat, dkk, 2003:25). Apabila diklasifikasikan, bercocok tanam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu di ladang (tanah kering) dan di sawah (tanah basah). Keduanya memiliki tahap yang bila digeneralisasikan terdiri atas: pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemungutan hasil (panen).

Apabila jenis tanaman yang diusahakan adalah padi, apabila seluruh hasil panen terkumpul, dijemur sampai kering dan baru kemudian disimpan. Di daerah Jawa Barat penjemuran padi biasanya beralaskan giribig (semacam tikar terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 2x3 meter), kain terpal atau lantai yang di plester. Bila jenisnya pare leutik (padi kecil), cara menjemurnya adalah dengan menebarkannya di atas giribig. Agar kering merata padi perlu dibolak-balikkan dengan alat yang dinamakan sosorong. Sementara bila jenisnya pare gede (padi besar), cara menjemurnya adalah dengan dijebrakeun, yaitu ikatan padi berada di bawah dan tertutupi oleh untaian-untaian butir padi, sehingga hampir seluruh butir padi akan tersinari panas matahari. Setelah itu dijemur dengan posisi yang berlawanan dari arah sebelumnya sehingga ikatan padi berada di atas. Demikianlah seterusnya sampai padi kering secara merata.

Pare leutik yang telah kering dan tidak lagi panas kena sinar matahari, dapat langsung dimasukkan ke dalam karung atau wadah untuk kemudian disimpan. Sedangkan pare gede terlebih dahulu harus melalui tahap mangkek (mengikat padi). Caranya dimulai dengan diguar (ikatan padi dibuka) lalu dibalikkan supaya bagian dalam menjadi di luar. Setelah itu nyabutan salakop atau mencabuti tangkai padi atau jerami yang terlepas supaya bersih dan rapi. Selanjutnya dipapakeun (tangkai padi diratakan dengan cara dipukul-pukul ujungnya), lalu diikat dengan tali bambu yang telah diolesi tanah liat agar lentur. Untuk memperkuat ikatan, dibantu dengan alat yang disebut pahul, yaitu tongkat kayu atau bambu yang panjangnya dua jengkal dan garis tengahnya kurang lebih 2 centimeter. Cara mengencangkannya, ujung tali diikatkan pada pahul, sementara itu ujung yang lain diikatkan pada batang-batang padi, kemudian pahul diputar sehingga ikatan menjadi kencang.

Dahulu, padi yang telah kering akan disimpan di dalam leuit (lumbung) yang letaknya di samping atau belakang, terpisah dari rumah utama. Jika ingin dijadikan beras, padi akan diambil secukupnya lalu diinjak-injak hingga menjadi gabah, kemudian dimasukkan ke dalam lisung (lesung) untuk ditumbuk agar lepas kulitnya menggunakan halu atau alu. Lesung adalah lumpang kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk padi dan sebagainya (kbbi.web.id). Menurut id.wikipedia.org, lesung umumnya terbuat dari kayu berbentuk menyerupai perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter, dan berkedalaman sekitar 40 centimeter. Adapun alat penumbuknya yang disebut sebagai alu atau halu berbentuk tongkat setinggi sekitar 1,5 meter.

Selanjutnya, agar beras tersebut menjadi bersih (putih), maka perlu ditumbuk lagi dan ditampi dengan alat yang disebut nyiru atau niru. Dengan cara sedemikian rupa, kulit ari padi akan terbang jatuh terpisah dari beras yang akan tertinggal pada nyiru tersebut. Kulit ari tersebut dapat dimakfaatkan sebagai pakan ayam dan bebek. Sedangkan berasnya dapat langsung ditanak atau disimpan dalam gentong atau padaringan (tempayan gerabah). Namun, dewasa ini para petani tidak perlu memberaskan dengan cara “tradisional” sebagaimana yang diuraikan di atas. Mereka dapat memberaskan ke penggilingan-penggilingan padi yang ada di Desanya. (ali gufron)
Sumber:
Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan, dkk. 2003. Kamus Istilah Antropologi, Jakarta: Progres
"Lesung", diakses dari http://kbbi.web.id/lesung, tanggal 26 Agustus 2016.
"Lesung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lesung, tanggal 26 Agustus 2016.

Unem

Unem adalah peralatan tradisional yang digunakan oleh orang Sunda untuk membawa atau memindahkan beras dari satu tempat ke tempat lainnya. Unem dibuat dari tempurung kelapa yang dibentuk menyerupai cawan dengan kapasitas bergantung dari besarnya tempurung yang didapat. Cara menggunakannya dengan disipat, yaitu meratakan beras pada permukaaan unem dengan alat yang disebut gegeloh (sejengkal bambu atau kayu yang dibentuk menyerupai silinder).

Kerupuk

Berbicara tentang kuliner khas Indonesia yang dianggap paling merakyat tentu tidak akan terlewatkan dengan sebuah makanan yang diberi nama kerupuk. Makanan yang mungkin namanya diambil dari teksturnya yang garing serta bunyinya yang kriuk-kriuk ketika dimakan ini konon diciptakan oleh sebuah keluarga dengan banyak anak. Oleh karena sangat miskin, maka untuk bertahan hidup mereka harus memutar otak agar tidak kelaparan. Walhasil, ketela pohon pun diolah menjadi makanan. Adapun caranya adalah dengan memarutnya, lalu diberi air, diperas, diendapkan, dan dijemur. Tepung hasil endapan ketela pohon tadi kemudian diolah sedemikian rupa menjadi makanan yang akhirnya disebut sebagai kerupuk samiler (jendelakamu.blogspot.co.id; www.kaskus.co.id).

Lepas dari asal usul yang masih "konon" tersebut, yang jelas saat ini kerupuk terbuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan atau perasa lainnya yang dikukus kemudian disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak lalu dijemur agar mudah digoreng dengan minyak atau pasir (kbbi.web.id).

Oleh karena proses pembuatan dan pemasakannya berbeda-beda, maka kerupuk memiliki cukup banyak varian, yaitu: (1) kerupuk ikan; (2) kerupuk ikan palembang; (3) kerupuk mie kuning; (4) kerupuk kedelai; (5) kerupuk Bangka; (6) kerupuk aci; (7) kemplang; (8) kerupuk bawang putih; (9) kerupuk bawang (id.wikipedia.org); (10) kerupuk tahu; (11) seblak; (12) kerupuk tulang; (13) kerupuk gapit, kerupuk blek; (14) kerupuk kulit; (15) kerupuk gendar. Kerupuk gendar dibuat dari adonan nasi yang dicampur dengan bumbu rempah dan penambah rasa. Agar lebih kenyal, dalam adonan dapat bula ditambahkan bleng atau tepung tapioka sebelum diiris tipis dan dijemur selama 2-3 hari hingga kering; (16) kerupuk sanjai; (17) kerupuk ceker ayam; (18) rengginang. Rengginang terbuat dari nasi atau beras ketan yang dikeringkan di bawah panas matahari. Bentuk rengginang agak berbeda dari jenis kerupuk pada umumnya karena bahan yang digunakan tidak dihaluskan terlebih dahulu. Jadi, ketika telah dibentuk bulat atau bundar lalu digoreng, biji-biji beras atau beras ketan sebagai bahan pembentuknya akan tetap terlihat; (19) kerupuk melarat. Kerupuk melarat dibuat dari tepung tapioka yang dibentuk menyerupai tali kusut diberi pewarna menyala (merah, kuning, hijau). Sesuai dengan namanya yang berarti "miskin", kerupuk ini tidak digoreng menggunakan minyak melainkan pasir yang sudah dibersihkan sehingga proses penyaringannya harus dilakukan dengan cara diayak; (20) kerupuk kulit. Kerupuk kulit (rambak/jangek) tidak dibuat dari tapioka melainkan kulit sapi atau kulit kerbau yang diiris tipis-tipis kemudian diberi bumbu sebagai penambah rasa lalu dijemur hingga kering selama 2-3 hari. Dalam proses penyajiannya kerupuk kulit perlu digoreng sejumlah dua kali karena sulit mengembang. Proses penggorengan pertama dilakukan dengan minyak bersuhu rendah sebelum dipindahkan dalam penggorengan berisi minyak goreng panas; (21) kerupuk jengkol. Kerupuk jengkol berbahan dasar jengkol yang dilumatkan lalu dicampur dengan tepung kanji dan dibentuk bulat. Sesuai dengan namanya, ketika telah digoreng kerupuk ini berwarna cokelat serta berbau dan berasa seperti jengkol; dan (22) kerupuk udang. Kerupuk udang terbuat dari adonan halus tepung tapioka dan udang rebon serta bumbu rempah sebagai penambah rasa. Bila telah merata, adonan dikukus hingga matang dan kenyal ^_^ lalu diiris tipis-tipis dan dijemur selama 2-3 hari sampai kering. (ali gufron)

Foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kerupuk_mi_kuning.JPG
Sumber:
"Kerupuk", diakses dari http://kbbi.web.id/kerupuk, tanggal 25 Agustus 2016.

"Sejarah Kerupuk", diakses dari http://jendelakamu.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-kerupuk.html, tanggal 25 Agustus 2016.

"Kerupuk", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk, tanggal 26 Agustus 2016.

"Sejarah Kerupuk dan Macam-macam Kerupuk", diakses dari http://www.kaskus.co.id/ thread/51b588a08227cfb03b000005/sejarah-kerupuk-dan-macam-macam-kerupuk/, tanggal 29 Agustus 2016.

Lomba Makan Kerupuk

Kerupuk adalah makanan bertekstur garing yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia sebagai pelengkap makanan utama (nasi). Kerupuk terbuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan atau perasa lainnya yang dikukus kemudian disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak lalu dijemur agar mudah digoreng dengan minyak atau pasir (kbbi.web.id).

Oleh karena proses pembuatan dan pemasakannya berbeda-beda, maka kerupuk memiliki cukup banyak varian, yaitu: kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk ikan palembang, kerupuk mie kuning, kerupuk kedelai, kerupuk Bangka, kerupuk aci, kemplang, kerupuk bawang putih, kerupuk bawang, kerupuk kulit, kerupuk melarat, kerupuk gendar, kerupuk sanjai, rengginang, rempeyek, rambak, kerupuk ceker ayam, dan lain sebagainya (id.wikipedia.org, jendelakamu.blogspot.co.id).

Sebagai penganan yang populer dan merakyat, makan kerupuk dijadikan sebagai salah satu dari sekian banyak perlombaan yang selalu rutin diadakan pada saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Sesuai dengan namanya, dalam permainan ini para pesertanya diharuskan untuk menggigit dan memakan habis sebuah kerupuk yang digantungkan menggunakan seutas tali. Mengenai kapan dan dimana pertama kali muncul permainan ini sudah tidak diketahui lagi, namun sejak adanya pelbagai macam permainan untuk memperingati dan memeriahkan hari kemerdekaan, permainan makan kerupuk selalu diikutsertakan.

Pemain
Perlombaan makan kerupuk dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak, remaja, dan dewasa yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan berusia 5-45 tahun. Selain pemain, lomba ini juga menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan makan kerupuk tidak membutuhkan empat atau arena yang luas. Ia dapat dimainkan di mana saja, seperti: halaman/pekarangan rumah atau tanah lapang. Sedangkan, peralatan yang digunakan adalah: (1) kerupuk ikan atau udang berwarna putih dan berbentuk bulat; (2) tali rafia untuk menggantungkan kerupuk secara berjejer; dan (3) batang bambu atau kayu yang nantinya akan dijadikan sebagai mistar tempat untuk menggantungkan kerupuk.

Aturan Permainan
Aturan dalam perlombaan makan kerupuk tergolong mudah. Peserta diharuskan menggigit dan memakan hingga habis kerupuk yang telah digantungkan oleh panitia lomba. Bagi peserta yang dapat menghabiskan kerupuk dalam waktu paling cepat, dinyatakan sebagai pemenangnya.

Jalannya Permainan
Apabila panitia perlombaan telah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan permainan, maka mereka akan memanggil para peserta untuk berdiri tepat di depan kerupuk yang digantungkan. Tinggi kerupuk dari kepala peserta kadang disamakan (rata) dan kadang pula dibedakan (bergantung dari tinggi badan tiap peserta). Setelah peserta siap dengan posisi tangan dibelakang (dilarang memegang kerupuk), panitia akan memberikan aba-aba sebagai tanda perlombaan dimulai.

Saat aba-aba diberikan para peserta segera mulai menggigit dan memakan kerupuk yang digantungkan dengan tali rafia setinggi kira-kira beberapa sentimeter di atas mulut. Keadaan ini membuat peserta harus ber"jinjit" agar dapat menggigit kerupuk yang posisinya tidak tetap karena selalu berputar mengikuti hentakan mulut peserta yang mencoba menggigitnya. Dan, apabila ada peserta yang berhasil menghabiskan kerupuknya, maka dia dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai makan kerupuk ini adalah: kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain untuk dapat mengigit dan memakan kerupuk hingga habis agar menjadi pemenang. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang dengan memegangi kerupuk saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (ali gufron)

Foto: http://lampung.tribunnews.com/2016/05/14/balita-susah-makan-jangan-dibiarkan-makan-kerupuk
Sumber:
"Kerupuk", diakses dari http://kbbi.web.id/kerupuk, tanggal 25 Agustus 2016.

"Sejarah Kerupuk", diakses dari http://jendelakamu.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-kerupuk.html, tanggal 25 Agustus 2016.

"Kerupuk", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk, tanggal 26 Agustus 2016.

Tursandi Alwi

Tursandi Alwi merupakan satu-satunya satu putra Lampung Barat yang berhasil menduduki posisi di lingkar dalam orang nomor dua di Republik Indonesia sebagai sekretaris wakil presiden. Posisi ini diembannya karena dinilai sangat matang pengalaman dalam urusan birokrasi pemerintahan. Tursandi telah menempuh hampir semua jenjang birokrasi, mulai dari wakil camat hingga tiga kali menjadi pejabat pelaksana gubernur (Wardoyo, dkk: 2008).

Pria yang lahir di Sukau tanggal 14 Oktober 1950 ini mulai mengenal dunia birokrasi ketika mengenyam pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Palembang pada tahun 1973. Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya ke Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta hingga lulus tahun 1977. Tidak puas hanya mendapat satu gelar, Tursandi sekolah lagi di Universitas Tarumanegara hingga meraih gelar Sarjana Hukum Tata Negara tahun 1991. Dan terakhir, dilanjutkan dengan Magister Management di IPWI Jakarta tahun 1997 (www.bijaks.net).

Sedangkan karirnya dalam birokrasi pemerintahan diawali dengan menjadi Wakil Camat Jakarta Barat lalu naik menjadi Camat Jakarta Barat, dan Wakil Walikota Jakarta Barat. Kemudian oleh Departemen Dalam Negeri dia diangkat sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan, Dirjen Pembangunan Daerah, dan Dirjen Sosial Politik Depdagri. Selesai menjabat sebagai Dirjen Sosial Politik, dia dilantik menjadi Pejabat Gubernur Gorontalo pada 16 Februari 2001 ketika wilayah itu baru saja dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara.

Dari Gorontalo Tursandi dialihkan ke kampung halamannya untuk menjadi Pejabat Gubernur Lampung pada 5 Februari 2003 ketika suasana politik tengah memanas akibat tidak dilantiknya gubernur terpilih Alzier Dianis Thabrani. Walau sulit, Tursandi melewati masa-masa itu dengan bijak sehingga dapat meredam suhu politik sampai gubernur baru Sjachroedin Z.P dan pasangannya Syamsurya Ryaccudu dilantik pada 2 Juni 2004 (id.wikipedia.org).

Lepas dari Lampung, Tursandi dilantik lagi sebagai Pejabat Gubernur Kalimantan Selatan (2005-2006). Selanjutnya ditarik ke Jakarta untuk menjadi Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Pemerintahan tahun 2006-2007. Dari staf ahli menteri, pria yang enggan disebut tokoh ini akhirnya diangkat menjadi Sekretaris Wakil Presiden pada tanggal 26 April 2007. Tiga tahun berikutnya (2010) dia menjabat sebagai Komisaris PT Angkasa Pura II.

Foto: https://www.scribd.com/doc/211466374/Profil-Tursandi-Alwy
Sumber:
"Tursandi Alwi", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tursandi_Alwi, tanggal 7 Juni 2016.

"Tursandi Alwi", diakses dari http://www.bijaks.net/aktor/profile/htursandialwi5153b7a5 bc15c, tanggal 7 Juni 2016.

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 244-246.

Farid Anfasa Moeloek

Farid Anfasa Moeloek atau lebih lengkapnya Prof. Dr. H. Farid Anfasa Moeloek, Sp.O.G. bukanlah nama asing dalam dunia kesehatan di Indonesia. Pria kelahiran Liwa ini pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan Republik Indonesia sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Soeharto (Kabinet Pembangunan VII) dan dalam Kabinet Reformasi masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie (23 Mei 1998-23 Oktober 1999)1.

Farid adalah anak dari Abdoel Moeloek, seorang dokter asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang namanya begitu lekat dengan masyarakat Lampung sehingga diabadikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Bandarlampung. Kiprah Abdoel Moeloek di dunia kedokteran sendiri dimulai ketika dia merantau ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di Stovia, sekolah kedokteran yang didirikan Belanda2. Lulus dari Stovia Abdoel Muluk memutuskan hijrah ke Semarang dan bekerja sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Dokter Karyadi. Namun, karena situasi politik dan keamanan waktu itu tidak mendukung, Abdul Moelok mengasingkan diri ke Desa Winong, Liwa, Lampung Barat2.

Di Liwa Abdoel Moelok Mengabdikan diri menjadi dokter bagi rakyat kecil yang berada di sekitar tempat tinggalnya, sementara isterinya Poeti Alam Naisjah bekerja sebagai guru. Saat menetap di Liwa inilah Farid lahir pada tanggal 28 Juni 1944. Tidak lama setelahnya (ketika bangsa Indonesia merdeka) Abdoel Moeloek beserta keluarga pindah ke Tanjung Karang untuk menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang yang sebelumnya dikelola oleh Jepang.

Semasa kecil, Farid mengenyam pendidikan dasar hingga menengahnya di Tanjung Karang. Oleh karena ingin menjadi tukang insinyur, selepas SMA dia hijrah ke Bandung dan masuk ke Fakultas Teknis Sipil Institut Teknologi Bandung. Namun baru berjalan beberapa bulan (sekitar tiga bulan), menurut Pramudiarja (2012) Farid memutuskan pindah ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) karena ada sedikit "intervensi" dari keluarga yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter. Sementara menurut Farid sendiri yang dilansir oleh pdpersi.co.id, ada dua alasan kepindahannya ke FKUI, yaitu: ingin tampil beda dari abangnya yang sudah lebih dahulu menjadi engineer dan terpengaruh oleh figur ayahnya terutama saat menghadapi Belanda. Waktu itu, sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang Abdoel Moeloek bekerja siang malam menangani para korban perang. Dengan mengutamakan rasa kemanusiaannya, dia merawat seluruh korban yang datang ke rumah sakit tanpa membedakan apakah itu pejuang republik atau serdadu Belanda.

Lepas dari keterpaksaan atau tidaknya masuk FKUI yang jelas pada tahun 1970 Farid berhasil menamatkan pendidikannya dan memperoleh gelar dokter. Bahkan tidak hanya gelar yang diperoleh dari FKUI, melainkan juga pasangan hidup bernama Nila Juwita. Mereka menikah pada tahun 1972. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Muhamad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek, dan Puti Annisa Moeloek. Ketiganya dididik secara demokratis, termasuk dalam menentukan jenis pendidikan yang akan ditempuh setelah tamat SMA. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah dewasa tidak ada yang mengikuti jejak Farid menjadi dokter. Alasannya cukup sederhana, yaitu profesi dokter relatif sibuk dan tidak mengenal waktu5.

Empat tahun setelah menikah (1976) Farid yang tetap melanjutkan pendidikannya berhasil meraih gelar Sp.O.G (spesialis obgyn dan gynecologi atau kandungan dan kebidanan) di fakultas yang sama. Dan, tidak puas dengan gelar tersebut, Farid sekolah lagi hingga menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran dengan predikat Cum Laude, juga dari fakultas yang sama.

Selain mendapat ijazah dari FKUI Farid juga sempat mengecap pendidikan di luar negeri, di antaranya: (a) The Course in Fertility Management and MCH Care (Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak) yang diselenggarakan tahun 1977 oleh WHO di Singapura; (b) The Course in Infertility Management and Gynbaecologic Microsurgery di Universitas John Hopkins, Baltimore, USA (1979); dan (c) Advance Course in Operative Endoscopy in Fertility and Infertility di Elizabet Krankenhouse, Hamburg, Jerman (1980)5.

Sebelum mendapat gelar strata duanya Farid telah memulai karir di bidang kedokteran dengan menjadi staf pengajar di FK UI. Dia mengajar ilmu kebidanan dan ilmu lingkungan untuk mahasiswa strata satu dan Obstetri serta Ginekologi untuk Pascasarjana. Selanjutnya, dia sempat menjadi Direktur Pascasarjana UI dari tahun 1996-1998; Kepala Subbagian Kesehatan Reproduksi Klinik Raden Saleh; Deputi Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1990-1996); menjadi anggota MPR RI (1999); Ketua Pengarah Tim Pemeriksaan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004)6; dan Penasihat bidang Penanganan Masalah Musibah, Pelembagaan Pola Hidup Sehar, serta Pengembangan Generasi Muda HIPPRADA (Himpunan Pandu Pramuka Wreda)7.

Sementara dalam bidang keorganisasian Farid juga mengikuti sejumlah perkumpulan, diantaranya: Yayasan Koalisi Indonesia Sehat; Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI); Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI); Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI); Ikatan Dokter Indonesia (IDI); Medical Association of South East Asia Nation; Honorary Member of International Society on Human Reproduction; Honorary Member of Society on Fallopian Tube in Health and Disease5; dan General Chairman of the VIII World Congress on Human Reproduction and IV World Conference on Fallopian Tube in Health and Disease6.

Dari sekian banyak jabatan yang telah diemban oleh Farid tersebut, ada satu jabatan yang sangat prestisius yaitu sebagai Menteri Kesehatan. Pada saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden RI dan membentuk Kabinet Pembangunan VII, Farid dipercaya menduduki jabatan Menkes pada tanggal 16 Maret 1998. Jabatan ini juga tetap dia emban walau Soeharto dilengserkan dan diganti oleh BJ Habibie melalui Kabinet Reformasi Pembangunannya periode 1998-1999.

Setelah tidak menjabat sebagai menteri, pria yang dikukuhkan sebagai Guru Besar FKUI tahun 1994 ini tetap mengabdikan dirinya pada dunia kedokteran. Baginya, kesehatan merupakan hal fundamental yang dapat memutuskan rantai kemiskinan dan kebodohan di Indonesia2. Oleh karena itu, bersama para pakar dari berbagai disiplin ilmu (Prof Emil Salim, Sri Mulyani, Malik Fajar, Muladi) dia berusaha menanamkan paradigma sehat pada seluruh masyarakat Indonesia. Adapun wadahnya berupa yayasan yang diberi nama Koalisi Indonesia Sehat 2010.

Paradigma sehat yang digagas oleh Prof. Moeloek bermula dari konsepsi yang salah tentang kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, saat ini konotasi kesehatan seolah-olah hanya terfokus pada pelayanan dasar, seperti puskesmas dan rumah sakit. Padahal, di dalam konsep kesehatan sejatinya ada problem kesehatan keluarga, air bersih, rumah sehat, lingkungan sehat, gizi, maupun olahraga. Jadi, harus ada korelasi yang erat antara kesehatan individu, keluarga, masyarakat, dan perilaku bangsa2.

Agar tercapai kondisi kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka para dokterlah yang sejatinya bisa menjadi agent of changenya. Oleh karena itu paradigma sehat perlu digalakkan bagi para dokter dan masyarakat agar terjadi perubahan cara berfikir dari yang semula diartikan sebagai "bagaimana menyembuhkan orang sakit" menjadi "bagaimana warga negara Indonesia sehat mental, fisik, spiritual, lingkungan, dan sebagainya"4.

Paradigma sehat harus didukung oleh beberapa faktor penting agar cepat terlaksana, yaitu: (a) konsep atau pemikiran yang harus dijalankan; (b) competense atau kemampuan melaksanakan konsep tersebut. Competence terdiri atas rencana strategi, kendala-kendala yang dihadapi, kelemahan, kekuatan, ancaman, dan lain sebagainya; dan (c) koneksi yang saling bekerja sama dan saling mendukung4.

Adapun contoh pengejawantahan dari paradigma sehat dapat berupa pemberian dana bagi Pertamina agar dapat menarik timbal dan plumbam yang ada dalam bahan bakar minyak yang mereka produksi. Tujuannya adalah untuk mengurangi polusi udara yang dapat menyebabkan otak kanak-kanak menjadi mengkerut dan kehilangan IQ point bila menghirupnya. Contoh pengejawantahan lainnya adalah dikembangkannya konsep dokter keluarga yang sewaktu-waktu dapat berkeliling ke rumah-rumah untuk memberikan penyuluhan, memeriksa kesehatan dan lain sebaginya4.

Foto: http://www.kalbe.co.id/AboutKalbe/KalbeinBrief/BoardofCommissioners.aspx
Sumber:
1. Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 186-189.

2. Andriyani, Titik. 2009. "Keluarga Moeloek, Salah Satu Dinasti Dokter Sukses di Indonesia", diakses dari https://suprizaltanjung.wordpress.com/2013/03/18/keluarga-moeloek-salah-satu-dinasti-dokter-sukses-di-indonesia/, tanggal 22 Juli 2016.

3. Pramudiarja, AN Uyung. 2012. "Prof Dr Farid A Moeloek, SpOG Jadi Dokter karena Terpaksa", diakses dari http://health.detik.com/read/2012/01/09/112831/1810124/1201/prof-dr-farid-a-moeloek-spog-jadi-dokter-karena-terpaksa, tanggal 4 Agustus 2016.

4. "Prof DR dr H Farid Anfasa Moeloek SpOG: Indonesia Sehat, Bila Menerapkan Paradigma Sehat, diakses dari http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=189&tbl= figur, tanggal 6 Agustus 2016.

5. Santoso, Teguh Budi. 2009. "Prof.Dr.dr.H. Farid Anfasa Moeloek, SpOG", diakses dari http:// health.detik.com/read/2009/07/06/123618/1159700/774/prof-dr-dr-h-farid-anfasa-moeloek-spog, tanggal 20 Juli 2016.

6. "Faried Anfasa Moeloek" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Faried_Anfasa_ Moeloek, tanggal 22 Juli 2016.

7. "Demi Kesehatan Masyarakat Bentuk Yayasan Koalisi Indonesia Sehat 2010", diakses dari http://www. gemari.or.id/cetakartikel.php?id=933, tanggal 3 Agustus 2016.

Popular Posts

-